JAKARTA – Janda miskin Sukma Damayanti dan putrinya Julianti terus berjuang dalam kemiskinan. Mereka tinggal di sebuah gubuk berdinding pelepah nipah dan serpihan kayu di hutan Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Demi menyambung hidup, ia memungut sisa biji kakao yang terbuang dan mengumpulkan biji kakao sisa makanan tikus di kebun milik warga. Biji kakao tersebut dijual Rp 10.000/kg untuk kemudian ditukar dengan beras.
Namun mengumpulkan kakao 1 kg bukan hal mudah. Sukma harus menyisir kebun sejak pagi hingga sore. Setelah itu kakao harus dijemur selama 3 hari. Tiap 1 kilogram biji kakao yang terjual Sukma hanya mendapat Rp 10 ribu.
Bila tak ada makanan ia kerap memungut biji sukun yang jatuh untuk direbus sebagai pengganjal perut. Namun tak jarang juga Sukma harus menahan lapar.
“Saya tak punya kebun. Selama ini saya hanya memungut biji kakao sisa tikus yang terjatuh di kebun warga. Biasanya kalau baru beli beras. Kadang juga makan biji sukun kalau beras tak ada,” tuturnya seperti dilansir Bangkapos.
Di tengah kemiskinan, Sukma dan Julianti bertekad mewujudkan mimpinya yakni bisa hidup lebih layak dibanding saat ini.





