Pagi hari di mana cluster–cluster, komplek, dan perumahan masyarakat menengah ke atas berdiri dengan kokoh, terdapat pemandangan yang berbeda. Seorang pria paruh baya membawa karung kosong berjalan dengan telanjang kaki di aspal sebuah cluster mewah. Rasa penasaran membuat saya tertarik untuk mengikuti ke mana kakek itu akan pergi.
Tak jauh berjalan, tibalah kami pada sebuah kebun seluas kurang lebih 1500 meter persegi yang ditata dengan rapi. Berbagai macam sayuran tertanam dengan teratur. Ada sederetan tanaman kangkung, kacang panjang, kacang tanah, dan juga singkong. Kakek tersebut langsung menuju sebuah gubuk kecil di bawah pohon. Sekeluarnya dari gubuk itu kakek tersebut membawa pacul dan alat bercocok tanam lainnya.
Seakan tak ingin rejekinya “dipatok ayam” kakek tersebut langsung memulai aktifitasnya bercocok tanam. Rasa penasaran saya semakin besar. Saya memutuskan untuk menghampiri kakek tersebut. Dengan ramah kakek tersebut mengajak saya untuk ikut ke gubuk peristirahatannya. Segelas kopi hitam dan singkong rebus dari kebun sendiri menemani perbincangan kami.
Sambil menyantap singkong rebus, bapak Jalalludin yang kerap dipanggi Engkong Keling ini menceritakan kehidupannya. Engkong Keling adalah salah satu putra betawi asli yang tinggal di perbatasan antara kota Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan. Kedua kota tersebut saat ini mempunyai perkembangan yang sangat pesat. Banyak pengusaha dan pekerja dari kota lain datang untuk mencari rejeki ke kampung halaman Engkong Keling ini.
Belakangan saya tahu ternyata tanah seluas 1500 meter persegi tersebut beberapa puluh tahun yang lalu adalah miliknya. Karena tidak mempunyai pekerjaan dan usaha, untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan kedua anaknya, Engkong Keling memutuskan untuk menjual tanah tersebut kepada pengusaha dari daerah Jawa, yang kemudigan tanaha itu hanya sebagai simpanan atau sebagai investasi.
Engkong Keling mempunyai harapan yang besar kepada pendidikan kedua anaknya. Ia berharap kedua anaknya dapat menjadi orang sukses sehingga dapat menjadi tulang punggung untuk keluarga mereka. Duduk di depan halaman rumah, bercanda dengan cucu, dan menikmati hobinya, bercocok tanam tanaman hias menjadi cita-cita Engkong Keling ketika usia senja.
Tetapi nasib berkata lain. Beberapa puluh tahun yang lalu ketika beliau menjual tanah tersebut, harga tanah masih sangat murah, sehingga tidak cukup untuk menyekolahkan anaknya hingga kejenjang kuliah. Akhirnya anak laki-laki Engkong Keling sekarang hanya menjadi petugas kebersihan di sebuah kantor. Sementara anak perempuannya menjadi ibu rumah tangga dari seorang tukang ojek.
Pada awal tahun 2000-an harga sembako meningkat. Uang hasil penjualan tanah pun semakin menipis. Hal tersebut memaksa Engkong Keling meminta izin kepada orang yang membeli tanahnya agar memperbolehkan dirinya bercocok tanam di “mantan” tanah miliknya. Akhirnya Engkong Keling diperbolehkan untuk mengolah tanah tersebut. Dengan syarat, Enkong Keling hanya mendapat 50% dari hasil bercocok tanam, dan sisanya diberikan kepada pemilik tanah.
Di pojok kebun tersebut terdapat warung kecil yang terbuat dari bilik bambu. Warung itu menyediakan gado-gado dan keredok. Ibu Aminah, istri Engkong Keling memanfaatkan hasil dari kebun mereka sebagai bahan jualannya. Karena panen tidak dapat dinikmati setiap hari. Aminah membuka warung untuk menunjang perekonomian keluarga sehari-hari sambil menunggu panen datang. Aminah sangat terampil dalam mengolah bumbu kacang dan sayur-sayuran menjadi hidangan yang sangat lezat. Itu terbukti ketika jam makan siang, banyak orang yang membeli gado-gado atau keredok dari warungnya. Selain bumbu kacangnya yang lezat, sayur-sayuran yang digunakan pun masih segar. Karena baru dipetik tadi pagi dari kebun.
Gedung besar yang sedang dibangun tampak kokoh berdiri, dan sangat jelas terlihat dari kebun Engkong Keling. Gedung tersebut rencananya akan digunakan sebagai gedung Walikota Kota Tangerang Selatan. Terdengar kabar bahwa untuk menunjang aktifitas pemerintahan Kota Tangerang Selatan, akan dibikin alun-alun di sekitar gedung tersebut. Kebun yang kini menjadi tempat tinggal dan mata pencahariaan Enkong Keling terancam digusur untuk menjadi alun-alun.
“Gak Tau Deh,” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Enkong Keling ketika saya tanya akan tinggal di mana apabila kebunnya digusur pemerintah. Engkong Keling terlihat pasrah. Pasalnya apabila digusur, uang penggusuran sebagai kompensasi dari pemerintah bukan menjadi haknya. Engkong Keling juga tidak ingin menumpang dengan kedua anaknya. Karena ia dan istrinya tidak ingin menjadi beban kedua anaknya yang hidupnya juga tidak mapan.
Puas berbincang, saya pun pulang. Setelah berpamitan, Engkong Keling lanjut mencangkul tanah yang hendak ditanami kacang tanah. Dari kejauhan tampak Aminah memetik kangkung untuk bahan dagangannya.





