Mengapa Petani di Pinggir Hutan Hidupnya Miskin?

JAKARTA (KBK) – Hutan di Indonesia sangat luas dan begitu kaya, ironisnya kemiskinan justru terjadi di wilayah tersebut.

Dari benang merah di atas, Herman Supriyanto peneliti Hutan Kemasyarakatan di acara Enfironmental Outlook 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menuturkan hal tersebut bisa terjadi lantaran dipicu oleh ketimpangan kemilikan lahan, rendahnya akses kegiatan ekonomi dan rentannya terjadi konflik kepemilikan lahan.

Berdasarkan temuan Herman, karateristik petani
yang menggunakan atau memiliki Hutan Kemasyatakatan (HKM) hanya 30,1 persen. Celakanya dalam regulasi yang ada, masyarakat yang telah memiliki lahan luas ternyata bisa mengakses HKM yang lebih luas.

“Program tersebut jelaa akan mendorong ketimpangan penguasaan lahan,” ujar Herman.

Di sisi lain profil pendidikan petani hutan 87 persen hanya lulusan SMP dan SMA. Sehingga perlu ada edukasi lebih guna menyikapi HKM.

Kedua unsur di atas tambah Herman sangat berdampak pada aspek ekonomi petani. Masyarakat yang tidak memiliki HKM hanya memiliki pendapatan Rp 15 juta per bulan, jauh di atas pendapatan petani HKM yang mencapai Rp 25,7 juta pertahun.

“Lahan HKM sangat penting bagi masyarakat sekitar hutan, karena memberikan manfaat ekonomi total sebesar Rp 16 juta per tahun,” jelasnya.

“Reforma agraria yang sedang dilakukan harus memperhatikan aspek kehidupan berupa pengangguran, kemiskinan, ketimpangan dan konflik. kedepan pengembangan hutan harus berbasis agro industri untuk menciptakan masyarakat sekitar hutan yang sejahtera,” tutupnya

Advertisement