Kekerasan Migran Afrika di Libya Masih Merajalela

Ilustrasi migran yang diculik di Libya/ Press TV
LIBYA – Kekerasan terhadap migran Afrika di Libya masih terus berlangsung, dimana beredar sebuah viode seorang pria yang merintih kesakitan di lantai saat plastik yang dipanaskan menetes di punggungnya.
Adegan yang digambarkan dalam video baru tersebut menggambarkan pengungsi Afrika dilecehkan di Libya.

Pusat penahanan ilegal, pemerasan dan perbudakan telah menjadi hal yang umum di Libya karena orang-orang menggunakan negara ini sebagai titik loncat untuk menyeberangi Laut Mediterania dengan harapan bisa mencapai Eropa.

Banyak pencari suaka telah ditangkap dan kembali ke Libya setelah perjalanan tanpa dokumen dengan kapalnya gagal diteruskan.
 

Tahun lalu, video yang menunjukkan pencari suaka Afrika yang dijual di lelang budak memicu kecaman internasional. 

Namun Libya menuduh negara-negara Eropa tidak berbuat banyak untuk mengatasi gelombang migrasi massal di lepas pantai. 

“Hubungan ini perlu diatur,” kata Mohamed Ismael, seorang analis Libya. 

“Sebuah konferensi internasional antara Libia dan negara-negara Eropa utara harus menyelesaikan bagaimana Libya dapat menangani hal tersebut, karena semua itu tidak dapat dikenakan pada Libya.” tambahnya, dilansir Aljazeera. 

“Kita tidak bisa menjadi pemakaman, tempat tinggal atau penjara.” ujarnya lagi. 

Lebih dari 100.000 migran mencapai Italia tahun lalu dari Libya, namun setidaknya 3.000 orang tewas setelah kapal mereka tenggelam di Laut Mediterania. 

Libya telah terpecah-pecah antara dua pemerintah dan beberapa milisi selama beberapa tahun, setelah sebuah pemberontakan populer tahun 2011 menyebabkan penggulingan pemimpin lama Muammar Gaddafi.

Advertisement