2 Tahun Tertahan, LPM DD Tebus Ijazah Anak Yatim Ini

Tim tembus ijazah LPM Dompet Dhuafa, Mustaki berfoto bersama Nur Asiyah (18), anak yatim yang ijazahnya tertahan selama 2 tahun, sebelah kiri Danu guru Nur Asyiah. Foto:LPM

KRONJO – Melanjutkan kuliah ke kampus impian atau melamar pekerjaan menggunakan ijazah SMA adalah pilihan yang umum dimiliki bagi lulusan SMA, namun pilihan itu harus dikubur dalam-dalam oleh Nur Asiyah (18), sudah 2 tahun ijazahnya tertahan di sekolah karena ia masih memiliki banyak tunggakan.

Ia tinggal bersama ibu dan satu adiknya di Desa Pagedangan Ilir, Kecamatan Kronjo, Tanggerang, Banten, Ayahnya meninggal menjelang ujian nasional, ibunya yang berprofesi sebagai seorang petani tentu sangatlah kesulitan untuk menanggung biaya sekolah Asiyah beserta adiknya. Alhasil setelah lulus, tunggakan biaya sekolah masih sangat banyak dan dengan sangat terpaksa ijazah belum dapat diambil.

Asiyah mengaku, sempat mengadu nasib ke Jakarta selama 2 bulan dengan menjadi pembantu rumah tangga, namun penghasilannya hanya cukup untuk biaya hidup keluarga tidak bisa terkumpul untuk menebus ijazah.

“Sempat 2 bulan ke Jakarta jadi pembantu, niatnya sih ingin mengumpulkan uang menebus ijazah tapi uangnya selalu terpakai untuk membantu ibu membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga,” ucap wanita berkulit sawo matang ini.

Tanpa ada ijazah, tentu sangat sulit bagi dia melamar pekerjaan yang layak, karena mayoritas pabrik, minimarket dan lainnya mengharuskan minimal mempunyai ijazah SMA sebagai syarat awal melamar. Tapi ia tak mau menyesali keadaan, selama menunggu ijazahnya tertebus ia membantu ibunya bertani.

Seorang gurunya di YASPIA, Danu, hiba melihat kondisi muridnya ini. Ia pun berinisiatif melaporkan masalah anak ini ke Lembaga Pelayan Dompet Dhuafa (LPM-DD) yang memiliki program tebus ijazah.

Merespon laporan itu, Tim Tebus Ijazah LPM Dompet Dhuafa langsung ke menuju rumah Asiyah dan mengajak Aisyah melunasi tunggakan di sekolah Yayasan Pendidikan Islam Al-Halimiyah (YASPIA) Rabu, 17 Januari 2018. setelah berdiskusi, pihak sekolah pun memberikan keringanan biaya agar proses penebusan ijazah lebih cepat.

“Alhamdulillah, senang sekali mas akhirnya saya bisa mendapat ijazah, sempat ngumpulin tapi uangnya selalu kepakai, semoga dengan ijazah ini saya bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak dan bisa lebih membantu ibu” ucap Asiyah dengan wajah gembira.

Semoga dengan ijazah di tangan menjadi modal lebih untuk asiyah mendapat pekerjaan lebih layak dan dapat membantu perekonomian keluarga.(Taufan/LPM)

Advertisement