
TANGGAL 20 Januari lalu genap setahun Donald Trump memimpin negeri Paman Sam. Sepanjang sejarah AS, presiden ke 45 itu paling bikin heboh, gara-gara kebijakannya yang serba kontroversial. Tapi kata dokter kepresidenan, meski usianya sudah menginjak 72 tahun, Donald Trump tetap dalam kondisi sehat jasmani dan rohani, bahkan diprediksi usianya bisa sampai 200 tahun. Apakah semua ini karena dia penggila golf? Bayangkan, dalam 365 hari kerja di Gedung Putih dia menghabiskan 90 hari pemerintahannya hanya untuk bermain golf!
Dibanding dengan presiden pendahulunya, Barack Obama, dia beda usia 15 tahun lebih tua. Tapi saat hendak dilantik menjadi presiden AS, dia malah diberi pembekalan dan dinasihati Barack Obama. “Sebagai pemimpin dunia, segala tindakan dan ucapannya harus hati-hati, karena akan disorot dunia,” kata Barack Obama. Bayangkan, kok ada ya seorang anak malah menasihati bapaknya?
Tapi agaknya segala nasihat itu hanya masuk telinga kanan, balik lagi keluar telinga kanan, alias tak didengerin. Dengan alasan memenuhi janji kampanye, Donald Trump bermaksud membangun “tembok berlin” di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, agar tak ada lagi emigran gelap masuk negerinya. Paling kebangetan dan kelewatan, segala anggaran yang dibutuhkan dibebankan pada Meksiko. Tentu saja Presiden Enrique Pena Nieto menolak. “Enak saja! Siapa suruh bikin tembok begituan?,” ujarnya ketus.
Soal emigran gelap ini Donald Trump memang tak ada kompromi. Jika Barack Obama mengurusi 700.000 pendatang haram di negerinya, karena mereka masuk sejak anak-anak, Donald Trump justru bersikap, “Emangnya gue pikirin?” Program DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) baginya hanya bikin boros anggaran negara. Mereka harus diusir! Gara-gara ini, selama 3 hari pemerintahan federal AS sempat tutup (shutdown), lantaran RAPBN Darurat Donald Trump dijegal Partai Demokrat.
Paling menghebohkan ketika Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Langsung dia dikecam negara-negara hampir seluruh dunia. Tapi dia tenang-tenang saja, jika tak mau disebut kopeg (keras kepala). Maka inilah kelebihan dan kehebatan Trump. Meski dikecam dan dibully banyak bangsa dan umat, dia tidak menjadi stress karenanya, bahkan tetap sehat perkasa.
Kata dokter kepresidenan, pada usia 72 tahun kini kesehatan Donald Trump tetap dalam kondisi prima, sehat jasmani dan rohani, rosa-rosa macam Mbah Maridjan from Merapi mountain. Bahkan dokter memprediksi, usia Donald Trump nantinya bisa sampai 200 tahun. Padahal orang kebanyakan pada umumnya, pada usia 70 tahunan mulai disapa penyakit 7 B, yakni: budeg, buyuten (jalan tak normal), beser, blawur (rabun), dan brat bret brott…..alias kentut melulu.
Kenapa Trump masih bisa gagah perkasa dalam usia kepala tujuh? Kemungkinan, di samping kantongnya tak pernah kering, juga lantaran jadi penggila olahraga golf. Bayangkan, selama 365 hari pemerintahannya, ternyata sebanyak 90 hari hanya dihabiskan di lapangan golf. Bagaimana mungkin, negara diurus sambil nenteng-nenteng stick golf? Kesannya demikian santai, karena Donald Trump tak punya motto: kerja, kerja, kerja…… macam Presiden Jokowi.
Semua orang maunya panjang umur, tapi tak semuanya dikabullkan Allah Swt. Bahkan Chairil Anwar yang ingin “hidup seribu tahun lagi” seperti dalam puisi “Aku” karyanya, kesempatan hidup di dunia malah hanya dijatah 25 tahun. Maka beruntunglah Mbah Gotho di Sragen yang sempat diberi umur panjang 140 tahun, atau Mbah Petruk dari Blitar yang konon kini telah berusia 200 tahun.
Orang panjang usia dan diprediksi punya harapan hidup sampai 200 tahun sebagaimana Donald Trump, karena kondisinya memang sangat memungkinkan. Dia pengusaha kaya raya, yang uang dollarnya tinggal menggunting saja. Tapi orang kebanyakan, boro-boro 200 tahun, umur 60 tahun saja sudah banyak yang ngedrop. Yang mantan guru kena pengapuran, yang pensiunan PG Madukismo Yogyakarta terkena gula. Sebab kebanyakan orang, usia makin bertambah tapi pendapatan makin menurun. (Cantrik Metaram).




