Sudah 20 tahun Sadiyah (70) ditinggal mendiang suaminya. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, nenek dari dua cucu ini berjualan koran di daerah Kwitang, Jakarta Pusat. Mak Iyah, begitu begitu orang-orang kerap memanggilnya, menjual koran dari jam 10 pagi hingga jam 7 malam. Dari hasil menjual koran Mak Iyah bisa menerima Rp30 -50 ribu. Namun tak jarang pula ia mengalami kerugian karena koran yang dijajakanya tak kunjung laku.
“Kadang kalau sepi hanya 4-5 koran yang laku, lebih sering ruginya ketimbang untungnya,” ujarnya.
Mak Iyah sudah delapan tahun menjual koran. Sebelumnya Ia berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Namun sekitar sepuluh tahun yang lalu, ibu dari 2 anak ini tertabrak taksi, dan menyebabkan kakinya pincang hingga saat ini. Mak Iyah menambakan, kondisi kakinya tersebut menjadi halangan dalam melakukan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Akhirnya Ia memutuskan untuk menjual koran.
Anak pertamanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan anaknya yang kedua bekerja sebagai “cleaning service” di sebuah kantor. Mak Iyah merasa penghasilan kedua anaknya tersebut belum cukup untuk menghidupi keluarga.
“Kebutuhan Emak banyak, kontrakan tiap bulan Rp 500 ribu, makan sehari-hari, belom lagi harus beli obat buat kaki Emak,” jelasnya. Selain untuk membeli obat untuk kakinya, Mak Iyah juga harus membeli obat setidaknya dua bulan sekali untuk anak bungsunya. Harga obat tersebut juga tidaklah murah, sekitar Rp 300 ribu harus Mak Iyah siapkan. Karna Asen (35), begitu Mak Iyah memanggil anak bungsunya, punya penyakit jiwa yang sering kambuh sewaktu-waktu.
“Kalau ga minum obat dia cuma bengong aja, kadang ngomong sendiri. Emak ga tega ngeliat-nya. Makanya biar mahal juga emak cari duitnya buat beli obat si Asen,” pungkasnya.
Menurut keterangan Idris Afandi (44), pedagang koran di tempat yang sama Mak Iyah menjajakan korannya, Mak Iyah adalah sosok ibu yang sangat sayang kepada keluarganya. Ia juga sangat dihormati pedagang lain yang ada di sekitar lampu merah Kwitang tersebut. Selain itu Emak Iyah juga sosok wanita yang kuat. Degan fisiknya yang sekarang ini Ia tidak pernah kedapatan jatuh ataupun sakit saat berdagang. “Dari saya dagang di sini, saya ga pernah lihat Emak sakit,” kata Idris.





