CIREBON – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan banjir di Cirebon yang mengakibatkan ribuan rumah warga di 7 kecamatan terendam, sudah mulai surut.
Diketahui banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Cisanggarung dan Cijangkelok dan kini menyisakan material lumpur dan sampah.
Meskipun banjir telah surut namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap meluapnya sungai Cisanggarung dan banjir kiriman dari Kabupaten Kuningan jika turun hujan.
“Sebagian pengungsi sudah kembali kerumah masing-masing untuk melakukan pembersihan rumah/lingkungan,” ujar Sutopo, dalam siaran pers, Senin (26/2/2018).
Berdasarkan data BNPB, satu orang tewas dalam bencana banjir Cirebon yakni MD (80 tahun) akibat sakit. Adapun banjir tersebut merendam 4.352 rumah di 20 desa yang ada di 7 kecamatan. Yaitu Kecamatan Losari, Waled, Pasaleman, Pabedilan, Ciledug, Gebang, dan Pabuaran.
Sutopo menyebutkan, saat ini pengungsi masih membutuhkan sejumlah bantuan yang mendesak. Yakni kebutuhan air bersih, kamar mandi portable, sanitasi, selimut, obat-obatan, alat kebersihan, dan terpal.
“Cakupan dampak bencana cukup luas sehingga dalam pendataan belum maksimal. Selain itu aktifitas posko belum berjalan dengan baik karena belum terkoordinasinya antar SKPD, dan adanya keterbatasan sumber daya dan peralatan,” tuturnya.
Seperti diketahui, banjir di Cirebon ini disebut-sebut paling parah selama hampir 70 tahun. Di beberapa titik, ketinggian air mencapai 3 meter. Sehingga menenggelamkan rumah warga.
Selain menenggelamkan rumah warga, banjir juga menenggelamkan jalur kereta api dan di beberapa titik. Banjir membuat tanah landasan rel kereta api hanyut. Sehingga rel kereta api menggantung.





