JAKARTA – Suasana ruang kelas di Sekolah Dasar Filial 004 Seimenggaris, Nunukan, Kalimantan Timur siang itu tampak riuh. Sebagai guru pengajar, suara Susi Susanti (22) hanya terdengar timbul tenggelam.
Ruang kelas itu hanya memiliki 6 meja belajar, dengan ukuran 4 x 4 meter setiap harinya kelas tersebu dijejali oleh siswa dari 3 kelas berbeda. Semua siswa adalah puluhan anak-anak eks Migran dari Malaysia.
Begitu pun dengan ruang kelas di sebelahnya yang dihuni siswa kelas 4, kelas 5, dan kelas 6. Hal yang membedakan hanya jenis papan tulis yang digunakan kelas 6 menggunakan spidol.
”Kelas digabung, karena kita hanya punya 2 ruang kelas. Sejak dibangun memang hanya ada 2 ruang kelas,” ujar Susanti yang sudah 4 tahun mengabdikan diri di sekolah tersebut.
Saat didirikan, SD tersebut memiliki 4 orang guru. Pada awalnya, sekolah tersebut berada di bawah kolong rumah warga yang bersebelahan dengan kandang sapi milik warga. Selama mengajar Susanti lebih sering menjelaskan secara lisan, tak jarang ia mesti mondar-mandir ke kelas sebelah untuk memberikan pelajaran ke kelas 4 – 6 yang sudah menunggu.
Seperti dilansir Kompas (1/3) tunjangn yang didapat Susanti tak banyak. Susanti memilih bertahan mengajar karena satu-satunya guru yang tertinggal hanya dirinya. Susi mengaku mendapat honor Rp 200.000 per bulan yang diberikan tidak ada ketentuan waktunya.
“Uang segitu nggak cukup. Untuk biaya bensin PP saja 20 liter sudah habis Rp 250 ribu,” ucap Susanti yang jarak dari rumah ke sekolah sejauh 3 kilometer.





