Untuk mencapai “kasunyatan”alias “suwung” melalui Salat Makrifat, orang perlu berlaku zuhud, yakni membuang semua keinginan, kecuali untuk bisa menyatu dengan Allah. Untuk bisa meraih itu, orang harus “nyuwungake” atau mengosongkan diri dari segala keinginan.
“Ngelmu” atau ilmu gaib terwujudnya disertai dengan “laku” yang bertujuan mengendalikan hawa nafsu. Untuk itu, orang perlu “puruhito” atau berguru kepada seorang ahli spiritual, menjauhkan diri dari nafsu angkara atau mengendalikan nafsu agar dirinya tidak dikuasainya.
Ronggowarsito dalam “Serat Wedharaga” menganjurkan, hawa nafsu harus dikekang, supaya orang dapat mencapai cita-citanya yang tinggi. Caranya, mengurangi makan, minum sekedarnya, mengekang hawa nafsu dan berendah hati.
Paku Buwono IV dalam karyanya “Wulang Reh” berbicara hal sama: Mengurangi makan dan minum hendaknya dibuat laku. Jangan terlalu banyak bersuka ria, karena sifat gemar bersenang-senang dapat mengurangi kewaspadaan bathin”. Ia juga menyerukan jangan bersikap “adigung, adigang dan adiguna”, yang artinya sbb:
Adigung, mengandalkan keturunan raja/orang besar dan menantang siapa yang berani berbuat sesuatu terhadapnya? Adigang, mengandalkan kepandaiannya, akhirnya ketika terkena sesuatu, sikapnya mengecewakan. Adiguna, mengandalkan keberanian, tetapi saat menentukan, keberanian itu hilang dan menjadi tertawaan.
Orang yang belajar salat makrifat dinasehati untuk memperhatikan kesehatan badan. Alasannya, jika badan sakit-sakitan dapat dipastikan apa yang dituju tidak tercapai. Juga diingatkan untuk rajin dan telaten, tidak perlu “ngoyo” atau memaksakan diri karena ingin segera sampai tujuan. Alasannya, makrifat tidak dapat dicapai dengan cara memaksakan diri.
Belajar salat makrifat boleh “dilambari” (didasari atau disertai) dengan mengurangi makan, minum, tidur dan “karonsih” (berhubungan seksual), tapi jangan sampai mengganggu kesehatan. Boleh juga tanpa disertai tindakan pengurangan, asalkan tidak memanjakan nafsu makan, minum, tidur dan syahwat.
Semua tindakan berlebihan yang berakibat dapat merusakkan badan, seperti berpuasa beberapa hari tanpa makan sahur dan bertapa dalam waktu lama, termasuk “topo ngluweng”, dilarang dalam Islam. Tapi, orang yang nekat sengaja melangggar ketentuan agama itu. Bahkan, konon ada amalan atau doa tertentu untuk menghilangkan rasa lapar dan haus.
Dalam pedalangan, untuk pengekangan hawa nafsu ada ungkapan “nutupi babahan hawa songo” atau menutupi sembilanlubang dalam tubuh manusia: dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, satu lubang kemaluan dan satu dubur. Maknanya, berpuasa tidak melihat, tidak mendengar, tidak mencium, tidak berbicara, tidak kencing/berhubungan seks dan tidak buang angin/air besar. Semuanya itu untuk menjaga kesucian baik lahir (tidak batal wudhu karena keluar sesuatu dari lubang bawah depan dan belakang) maupun, dan lebih-lebih, batin.
Kemudian, mengheningkan cipta dengan cara memusatkan perhatian tertuju kepada Tuhan. Caranya dengan ” mandeng pucuking grana” atau memandang pucuk/ujung hidung dan bernafas panjang dan pelan secara teratur. Dengan cara ini, perhatian terpusat pada “panon”, yakni daerah di antara dua alis mata.
Pucuk hidung disebut “Gunung Reksamuka” (yang menguasai wajah) dalam Serat Dewa Ruci. Pucuk hidung juga dipadankan dengan “Gunung Tursina” dalam kisah Nabi Musa ketika ingin melihat wajah Allah.
Semua pikiran dan angan-angan disingkirkan, “amung sji kang sinidikoro” (hanya satu yang dituju, yakni Hyang Manon atau Tuhan). Jika, mendapat ridha Allah, pelakunya akan melihat “cahya putih sak sada lanang” (cahaya putih sebesar batang lidi). Konon, itu lambang huruf Alif. Wallahu alam bissawab.



