-
VLADIMIR Putin melengggang lagi sebagai pemimpin Rusia keempat kalinya (sekali perdana menteri dan tiga kali presiden) setelah menang telak dari lawan-lawannya dalam Pilpres yang digelar di negara “beruang merah” itu Minggu lalu (18/3).
Putin nyaris menyapu bersih perolehan suara dengan 76,66 persen, bahkan meraup 92 persen suara di wilayah Krimea yang dicaplok Rusia dari Ukraina pada 2014, sedangkan saingan terdekatnya, miliarder Pavel Grudinin hanya mampu mengumpulkan 11,2 persen suara.
Sedangkan Vladimir Zhirinovsky dari ultra konservatif (LDPR) meraub 6,7 persen suara, tokoh liberal pro-Barat Ksenia Sochak, kandidat lain 4,5 persen dan l,2 persen suara tidak sah.
Tiga kandidat lainnya bahkan hanya mampu meraih suara di bawah satu persen walau ada juga kecurigaan dari pihak lain yang menuding pendukung Putin berlaku curang sehingga mereka akan mengajukan protes untuk itu.
Karir Putin bermula sebagai Kepala Dinas Rahasia (FSB, pengganti KGB) pada 1998, diangkat perdana menteri (1999), menjadi presiden terpilih (2000) menggantikan Presiden pertama Federasi Rusia Boris Yeltsin dan terpilih kembali (2004), pada 2008 digantikan oleh Dimitri Medvedev, terpilih presiden kembali (2012) dan ketiga kalinya (2018) sebagai presiden.
Dengan demikian, pencapaian Putin sebagai pemimpin Rusia mencapai rekor terlama yakni selama 24 tahun dalam sekali jabatan PM dan tiga kali masa jabatan presiden.
Pemerintah Rusia dengan berbagai cara mendorong partisipasi pemilih, termasuk dengan instruksi atasan terhadap karyawannya atau dengan bujukan karena sebelumnya dicemaskan terjadi kejenuhan di kalangan pendukung Putin sehingga berpaling darinya untuk memilih muka-muka baru.
Namun sejumlah pendukung Putin tetap bersikukuh memilihnya, tidak menginginkan perubahan, dan berharap agar Putin bisa merampungkan (program-program-red) yang telah dimulainya.
Tidak lazim
Pola pemilih di pilpres Rusia kali in memang memang tidak biasa, karena lazimnya popularitas petahana yang bertengger di singgasana kepemimpinan dalam waktu lama cenderung melorot.
Tidak bagi Putin, pada pilpres sebelumnya (2012) ia hanya mampu mengumpulkan suara di bawah 65 persen, jauh di bawah perolehan suara di pilpres kali ini yakni 76,68 persen, sehingga di balik kemenangan signifikan itu, ada juga yang mempertanyakan, dengan cara apa ia memprolehnya.
Sejumlah pengamat menilai, Putin menang karena ia berhasil memanfaatkan ketegangan negaranya dengan pihak Barat untuk membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Rusia yang berjumlah 56 juta orang.
Rusia ditekan Barat terutama Uni Eropa a.l. mengenai tuduhan aneksasi atas wilayah Krimea di Ukraina pada 2014 dan tuduhan menyebar hoaks untuk mengintervensi pemilu di sejumlah negara UE seperti Jerman dan Perancis.
Saling usir diplomat dilakukan oleh Inggeris dn Rusia terkait kasus mantan agen mata-matanya, Sergei Srcipal (66)dan anak perempuannya Julia (33) yang diduga diracun oleh agen-agen Rusia.
Sergei dan Yulia dalam keadaan tidak sadar, diduga akibat serangan racun jenis novichok yang digunakan Uni Soviet antara 1970 sampai 1980, saat keduanya sedang duduk di luar pusat perbelanjaan di kawasan Salsbury, Whitshire, London, Minggu (4/3).
Selain membuncahkan semangat dan kebanggaan rakyat dengan politik luar negeri Rusia yang tidak mau didikte bahkan terkesan melawan Barat, kampanye Putin yang populis terkait ancaman imigran juga dinilai “mengena” atau “nyambung” dengan kecemasan rakyatnya.
Usai helat pilpres, Putin harus berkerja keras lagi untuk menghadapi tantangan ekonomi dalam negerinya a.l. anjloknya angka kelahiran sehingga kekurangan tenaga kerja, dan melonjaknya jumlah pensiunan yang akan membebani negara. (AP/AFP/Reuters/NS)





