
WALAU nun jauh di Rusia, terbakarnya Mal Winter Cherry di kota Kemerovo, 3.000 Km timur Moskwa yang merenggut 64 nyawa, akhir pekan lalu perlu dijadikan pembelajaran agar musibah seperti itu tidak terjadi di sini.
Kenapa?, karena Jakarta saja saat ini sudah terkepung bangunan pusat perbelanjaan yang jumlahnya mencapai 564, sebanyak 132 diantaranya berupa mal, selebihnya pasar swalayan, pusat grosir atau pasar tradisional. Dua belas mal lagi sedang dibangun tahun ini.
Jika diilustrasikan, pusat perbelanjaan di Jakarta mengokupasi lahan seluas 450 Ha atau hampir enam kali luas kawasan Monas (80 Ha) atau sekitar sembilan kali luas kota Vatikan (441.107M2) sehingga menempatkan ibukota RI itu sebagai kota dengan jumlah pusat perbelanjaan terbanyak di dunia.
Dalam kasus kebakaran di mal Winter Cherry, sebagian besar korban terperangkap di dalam bioskop di mal tersebut karena saat api mulai merambat, pintu-pintu bioskop termasuk pintu darurat dalam keadaan terkunci, bahkan menurut saksi mata, petugas malah mematikan sistem alarm.
Kebakaran menyebabkan atap bioskop atap dua studio bioskop yang terletak di lantai keempat atau lantai teratas mal roboh dan kemudian si jago merah menyambar area seluas 1.000 meter persegi di pusat perbelanjaan itu.
Menurut sejumlah saksi mata, mereka tidak mendengar suara alarm saat asap muncul dan api berkobar dengan cepat, sehingga penonton di bioskop berhamburan akibat panik.
Sementara saksi pengunjung mal mengaku mendengar signal perintah evakuasi dua kali, namun mereka tidak menyangka hal itu serius, dianggap ada sampah terbakar di toilet yang tidak membahayakan.
Seorang bocah berusia 11 tahun dilaporkan nekat meloncat dari lantai empat tanpa alat pelindung setelah menyaksikan orang tuanya tewas dalam kebakaran itu. Nyawa korban diberitakan masih bisa diselamatkan walau ia dalam keadaan koma.
Mal atau pusat perbelanjaan di mana-mana merupakan tempat berkumpulnya manusia, selain untuk berbelanja atau sekedar window shopping, clubbing, rekreasi, pusat kuliner, tempat randez vouz dan berbagai aktivitas lainnya.
Di Jakarta dan kota-kota di Indonesia lainnya, apakah mitigasi bencana sudah dilakukan, mulai dari pengawasan izin dan persyaratan keamaman bangunan, kesiapan petugas, penyewa bangunan, pemadam api, pintu-pintu keluar dan jalur evaluasi, juga tidak kalah pentingnya simulasi penanggulangan musibah.
Jangan sampai kita lengah, padahal musibah terutama bahaya kebakaran di lingkungan mal atau pusat perbelanjaan yang padat aktivitas dan kegiatan serta jumlah manusia terus mengintip setiap saat tanpa disadari.
Dengan persiapan atau tindakan mitigasi, jika musibah memang tidak bisa dihindari, risikonya diharapkan bisa ditekan seminimal mungkin.(AP/AFP/NS)




