
TIDAK ada kejutan dari hasil awal Pilpres Mesir yang diumumkan Kamis lalu (29/3), Presiden petahana, Abdel Fatah el-Sisi (64) seperti diduga semula, melenggang mudah untuk masa jabatan kedua, nyaris menyapu bersih seluruh suara (96,9 persen).
Sebanyak 21,4 juta dari 50 juta pemegang suara (42,08 persen) di negeri piramid itu ikut mencoblos dalam pilpres yang digelar selama tiga hari (26 – 28 Maret) atau berarti partisipasi warga turun dibandingkan 47 persen pada Pilres 2014.
Popularitas el-Sisi melejit setelah ia berhasil mengudeta kekuasaan rezim Presiden Muhammad Mursi pada 2013 yang sebelumnya sukses mendongkel singgasana Presiden Husni Mubarak yang bercokol di puncak kekuaaan hampir 30 tahun.
Lengsernya Husni Mubarak membuat el-Sisi mulai mendapat panggung politik ketika ia menjabat sebagai direktur intelijen militer dan juga juga anggota termuda Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) yang didominasi perwira senior.
Seperti Mubarak, el-Sisi berlatar belakang militer, lulus dari Akmil Mesir pada 1977 dan kemudian memimpin divisi infanteri mekanik, kemudian bertugas di zona militer Mesir di utara. El-Sisi pernah memperdalam pendidikan militernya di Inggris (1992) dan AS (2006).
Setelah Mursi digulingkan pada 3 Juli 2013 lewat kudeta, militer mengambil alih sementara kekuasaan di Mesir. El-Sisi mengumumkan mundur dari jabatan militer untuk maju dalam Pilpres 2014, hingga akhirnya menang dan dilantik menjadi Presiden Mesir keenam pada 8 Juni 2014.
El-Sisi sebagai presiden terpilih untuk masa jabatan kedua (2018 – 2022) akan disumpah di hadapan sidang parlemen yang akan digelar setelah hasil perhitungan suara final diumumkan.
Pesaing el-Sisi, Ketua Partai Al-Ghad, Mousa Mustafa Mousa yang hanya kebagian 750.000 suara atau 3,1 persen kepada harian Al Ahram menyatakan, menerima kekalahan dan bangga dengan Pilpres yang dinilainya berjalan aman, damai dan lancar.
“Pemenangnya adalah rakyat Mesir,” ujar Mousa seraya menambahkan, popularitas el-Sisi memang susah dilawan.
Namun pada periode kepemimpinan berikutnya, segudang persoalan menghadang, selain persoalan ekonomi dan juga korupsi di era pemerintahnya, el-Sisi diperkirakan akan terus diganggu oleh lawannya, kelompok radikal di Semenanjung Sinai Utara yang digempur pasukannya Februari lalu.
Waktu akan membuktikan kepemimpinan el-Sisi di periode kedua jabatan presiden kali ini. (AP/Reuters/NS)




