
MESKI kejadiannya tanggal 1 April, tapi ini bukan April Mop. Ini benar-benar terjadi, sejumlah anak muda di Jagakarsa-Depok dan Duren Sawit (Jakarta Timur), mati sia-sia gara-gara menenggak minuman keras (miras) oplosan. Kisah-kisah tragis semacam itu sudah sering terjadi di bebagai kota, tapi kenapa tidak dijadikan pelajaran. Apakah anak muda generasi melenial itu akan salah arah jadi generasi miras oplosan?
Orang bijak selalu mengatakan, anak muda itu harapan bangsa. Berangkat dari ungkapan itu, maka Bung Karno di kala muda sudah menantang, “Berikan 10 pemuda padaku, akan aku goncang dunia.” Dan itu memang betul, republik ini berhasil berdiri hingga kini karena diperjuangkan oleh para perintis kemerdekaan yang usianya masih muda-muda di kala itu.
Setelah 72 tahun merdeka, Indonesia sudah menjelma sebagai negri yang makmur cuma belum ada keadilan. Yang kaya luar biasa kayanya, yang miskin juga kebangetan miskinnya. Peluang kerja yang tak sebanding dengan jumlah pencari kerja, mengakibatkan terjadinya pengangguran di sana-sini. Begitu banyaknya pemuda nganggur itu, kemudian digunakan untuk ngerumpi bersama teman-teman lengkap dengan ekses-ekses negatipnya.
Mereka mulai mengenal minuman keras. Lebih berani lagi, meminum minuman eksperimen yang terdiri dari minuman keras yang dicampur dengan spirtus, bahkan jengkol. Hasilnya, miras oplosan itu di sana-sini menimbulkan jatuh korban tewas. Perhatikan dari usia para korban, generasi muda berusia 17-30 tahun. Apa boleh buat, generasi muda harapan bangsa itu sudah menjelma menjadi generasi miras oplosan.
Peristiwa paling gres terjadi 1 April lalu, sejumlah anak muda Jagakarsa dan Pondok Cina (Depok) kumpul-kumpul sambil menikmati miras oplosan. Dari 18 peserta mabok-mabokan tersebut, 7 dia antaranya tak sekedar mabok, tapi wasalam secara bergantian. Di hari yang sama, anak muda Duren Sawit juga rame-rame minum miras oplosan, 7 orang meregang nyawa karenya.
Bila kita menjelajah internet, dari waktu ke waktu selalu terjadi peristiwa tragis dan ironis itu. Misalnya saja di Padalarang 18 Januari lalu, miras oplosan tewaskan 9 orang. Di Cakung Jaktim Nopember 2016, yang tewas 10 orang; pertengahan Desember 2017 di Subang tercatat 4 orang tewas. Februari 2016, miras oplosan juga menewaskan 24 anak muda di Sleman (DIY). Dan masih di kota yang sama, seorang anak muda dari Gedong Tengen juga tewas akibat miras pada Desember 2017.
Generasi pemabokan itu umumnya dari keluarga miskin, yang tidak mampu beli miras bermerk made in asing yang tentu saja jauh lebih mahal. Mereka pun bereksperimen, miras lokal dioplos dengan etanol atau spirtus. Nah, karena berbahan barang berharga murah, nyawa pun jadi murah kerenanya.
Di Yogyakarta terdapat komunitas anak muda suka mabok-mabokan, di mana setiap anggota punya nama tambahan “Pangunci” di belakangnya. Itu ternyata singkatan: Paguyuban Ngunjuk Ciu atau perkumpulan minum tuak. Maka Bambang Pangunci dari komunitas itu bercerita, miras produk asing lebih aman ketimbang produk lokal yang dioplos pula. “Bangun tidur sehabis minum miras impor, kepala menjadi enteng. Tapi yang oplosan, bangun tidur kepala jadi sakit, bahkan banyak yang tidak bangun selamanya,” kata Bambang Pangunci.
Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu, emanen nyawamu…; begitu sepenggal lirik lagu berjudul “Oplosan”. Lagu itu berisi pesan agar anak muda menjauhi minuman keras, khususnya yang oplosan. Tapi meski lagu itu sudah lama beredar, tak juga menjadikan para kawula muda menjauhi minuman setan tersebut. Maka bila lagu anak-anak selalu mengatakan: bangun tidur kuterus mandi; bagi para pemabok pakai miras oplosan itu justru lagunya berbunyi: bangun tidur kuterus……mati!
Demikianlah, ancaman generasi milenial sekarang bukan saja narkoba berton-ton dari luar negeri, tapi juga miras oplosan. Minuman itu menjadikan mereka terbang dari dunia nyata, meski kemudian banyak pula yang terbang nyawanya. (Cantrik Metaram)




