Nyawa Seharga Rp 30.000,-

Massa berjubel di Monas, menunggu pembagian sembako seharga Rp 30.000,-

BERTAJUK “Untukmu Indonesia”, sekelompok orang misterius membagikan sembako senilai Rp 30.000,- di Monas, Sabtu lalu. Rupanya bangsa kita masih tergiur hal-hal yang murah dan serba gratis. Warga se Jabotabek pun menyerbu Ibukota, bahkan jumlahnya diprediksi mencapai 300.000-an orang. Namun apa yang terjadi? Karena tak ada kordinasi, acara itu justru bikin macet sekitar Monas, sampah berserakan dan nyawapun menjadi demikian murah. Dua bocah usia 10-12 tahun tewas terhimpit massa. Alangkah tragisnya, nyawa hanya dihargai Rp 30.000,- tanpa PPN 10 % pula.

Sembako itu kepanjangan dari: sembilan bahan pokok. Resminya di situ ada unsur: beras, gula pasir, sayur-sayuran, buah, daging, minyak goreng, susu, telur, minyak tanah, garam. Tapi sembako yang dibagi di Monas Sabtu lalu, sudah “dikorupsi” sedemikian rupa. Bukan sembilan macan bahan pokok, tapi tinggal: satu liter beras, gula pasir ¼ Kg, dan tiga buah mie instan. Kesemuanya hanya berharga sekitar Rp 30.000,-

Kabarnya jumlah sembako yang dibagikan sebanyak 400.000 paket. Dibanding dengan jumlah pengunjung sekitar 300.000,- orang, setiap orang masih bisa bawa pulang 1 kantong sembako. Itu teorinya. Dalam prakteknya, karena tak ada kordinasi, jalanan jadi macet. Masa berebut, sampai panitia hanya melempar-lemparkan sembako itu, meski ada kupon.

Karena berdesak-desakan terlalu lama, diterpa sengatan terik matahari, jangan-jangan belum sarapan pula, akhirnya banyak yang pingsan. Bahkan dua bocah Pademangan Jakarta Utara, masing-masing Adinda Rizki (12) dan Mahesa Junaidi (10), tewas dalam himpitan massa. Ke Monas berharap dapat 1-2 kantong sembako, justru masuk kantong mayat akibat kecerobohan panitia.

Siapa penyelenggara atau sponsornya, panitia terkesan merahasiakan dengan jawaban klasik: elemen mayarakat. Yang jelas warna merah sangat dominan dalam acara itu, sehingga orang pun mudah mengasosiasikan dengan sebuah parpol. Untungnya dalam kantong sembako itu juga tak ditemukan logo sebuah parpol, sehingga sulit untuk mengatakan bahwa itu bagian dari kampanye menjelang Pilpres 2019.

Pemprov DKI, khususnya Dinas Pariwisata & Budaya benar-benar merasa kecolongan. Izin awalnya hanya untuk kegiatan seni, tapi nyatanya melenceng jadi pembagian sembako. Tapi itulah resiko program Pemprov DKI bahwa Monas kini bukan lagi daerah tertutup, boleh untuk kegiatan apa saja bagi warga kota. Akibatnya, peristiwa-peristiwa di luar dugaan bisa terjadi tiba-tiba.

Siapa panitia itu sebenarnya, masih dilacak polisi. Berani benar melabeli dirinya dengan tajuk “Untukmu Indonesia”. Mereka terlalu meremehkan Indonesia itu sendiri. Masak rakyat Indonesia yang ratusan juta itu hanya dihibur dengan sembako tak seberapa. Sepertinya panitia atau kelompok di belakangnya sangat menikmati ketika ribuan orang berhimpitan dan berdesakan demi sembako senilai Rp 30.000,-

Padahal berulangkali terjadi, pembagian sumbangan yang melibatkan massa banyak menimbulkan jatuh korban. Tapi panitianya mungkin koplak dan kebanyakan micin, sehingga tak mempertimbangkan itu. Bahkan membohongi Pemprov DKI selaku pemilik wilayah, dianggap enteng saja.

Nasi telah menjadi bubur basi, tak mungkin diberi kerupuk dan sate ampela dan ati. Mereka yang tewas tak mungkin bisa dihidupkan kembali. Mereka harus ditangkap, untuk mempertanggungjawabkan kecerobohannya. (Cantrik Metaram)

Advertisement