Imam Al-Azhar: Politisasi Agama, Merusak

Kehadiran Islam wasatiyyah atau Islam moderat yang damai dan rahmatan lil alamin didambakan seluruh umat manusia

IMAM Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayeb mengingatkan, siapa pun hendaknya tidak memolitisasikan agama atau “mengagamakan” politik, karena upaya semacam itu akan merusak keduanya.

Agama dan politik, kata Syekh Ath-Thayeb dalam dialog di PB Nahdlatul Ulama di Jakarta, Rabu lalu (3/5), masing-masing memiliki karakter berbeda. Agama semestinya menjadi acuan moral untuk menuntun politik dalam perjuangan menyebarkan kebajikan secara universal.

“Islam hendaknya menjadi rahmat bagi semesta insan, tidak hanya umat Islam, “ tandasnya.

Untuk itu, ujarnya, Islam moderat atau paham yang berada di tengah (wasathy), tidak merasa benar sendiri, menghargai perbedaan, apalagi terkait hal-hal sepele, serta menjunjung kebersamaan dan persatuan, perlu terus ditumbuh-kembangkan.

Sedangkan Ketua Umum PB NU Said Akil Siroj senada dengan Syekh Ath-Thayeb memperkenalkan konsep Islam Nusantara yang menampilkan wajah Islam damai dan toleran di Indonesia.

Tiga cirinya Islam Nusantara yakni tawassuth (di tengah-tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) yang tak hanya mengembangkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), tetapi juga persaudaraan kebangsaan (ukhuwah watoniyah) dan persaudaraan antarmanusia (ukhuwah insaniyah).

Kebangsaan atau nasionalisme, seperti dipesankan oleh pendiri NU KH Hasjim Asyari melalui ajaran cinta tanah air, lanjut Akil Siroj, merupakan unsur penting yang menjadi penguat dan menyemangati NU dalam membangun keislaman dan membela tanah air.

Keadilan bagi Indonesia dan Dunia
Sedangkan Menteri Agama Lukman Hakim menyatakan, menghadirkan wajah Islam moderat di tengah kehidupan masyarakat merupakan upaya berkelanjutan untuk menebarkan kedamaian, mewujudkan kerukunan dan sekaligus menegakkan keadilan di masyarakat Indonesia dan dunia yang majemuk.

Politik identitas dan politisasi agama dikhawatirkan akan dimunculkan lagi oleh pihak-pihak tertentu di tengah ajang kontestasi pilkada serentak pada Juni mendatang dan juga pilpres 2019 setelah cara-cara semacam itu dianggap sukses dalam pilkada DKI Jakarta 2017.

Sementara saat menutup Konsultasi Tingkat Tinggi Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Jakarta (3/5), Wapres Jusuf Kalla mengemukakan, Indonesia dengan penduduk mayoritas pemeluk agama Islam memiliki tanggungjawab untuk menciptakan perdamaian.

Salah satu jalan untuk menghentikan konflik antarumat Muslim dan antarnegara-negara Islam ialah dengan mengembangkan Islam wasatiyyat yang selama ini sudah dipraktikkan di Indonesia.

Lebih jauh Wapres menilai, konflik dan peperangan di sejumlah negara Islam tidak hanya terjadi akibat intervensi negara negara besar tetapi juga akibat faktor inrernal yakni munculnya pemikiran Islam radikal dan ekstrim yang kadang-kadang berujung aksi terorisme.

“Orang melakukan aksi bunuh diri untuk membunuh orang lain atau menyulut perang atas nama jihad demi mencapai surga dengan jalan termudah. Ini tentu bukan ajaran Islam, “ tandasnya.

Untuk itu, Jusuf Kalla mengajak segenap ulama untuk menghentikan ajaran yang menyebabkan kehancuran dunia serta memodernisasi dan terus mengembangkan Islam wasatiyyat.

Sedangkan Presiden Joko Widodo saat menjamu peserta KTT Ulama dan Cendekiawan Muslim se-Dunia di Istana Bogor (l/5) mengemukakan, keterlibatan ulama pewaris nabi dan obor keteladanan bagi umat sangat penting dalam upaya pengembangan Islam moderat.

“Jika ulamanya bersatu padu dalam satu barisan untuk membumikan moderasi Islam, maka saya optimis poros wasathiyah Islam dunia akan menjadi arus utama, akan memberikan harapan bagi dunia yang aman, damai, sejahtera dan berkeadilan,” lanjut Jokowi.

Kehadiran Islam yang rahmatan lil alamin didambakan oleh seluruh umat manusia.

Advertisement