BUKITTINGGI – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperkirakan letusan yang terjadi di gunung Marapi pada beberapa waktu lalu bersifat freatik dan masih dalam skala kecil.
Penanggung jawab Gunung Marapi, Sumatra Barat (Sumbar) Mamay Surmayadi juga mengatakan aktivitas vulkanis Marapi selanjutnya cenderung tenang.
“Letusan yang sifatnya freatik atau kontak uap panas magma dengan air di permukaan, susah dideteksi kapan karena di permukaan sekali,” katanya.
Setelah erupsi pada Rabu (2/5/2018), Mamay memprediksi yang akan terjadi selanjutnya adalah letusan freatik dan tidak diikuti aktivitas kegempaan karena letusannya bukan karena pergerakan magma dari bawah.
Dalam rentetan aktivitas Gunung Marapi sejak 1807, menunjukkan letusan yang masih dalam skala kecil dan menghasilkan abu.
Meski demikian, hingga sekarang Marapi masih ditetapkan dalam status waspada karena melihat karakter serta catatan aktivitasnya tersebut.
“Kalau di status waspada, menandakan kemungkinan peningkatan aktivitas gunung dapat terjadi sewaktu-waktu seperti yang terjadi di beberapa waktu belakangan dan ada batas dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak atau kawah,” katanya, dilansir Antara.





