Iran Diambang Perang Lawan Israel

ilustrasi rudal Iran

KONFLIK di kawasan Timur Tengah dikhawatirkan bergeser menjadi perang terbuka antara Iran dan Israel yang sejauh ini baru pada tahap saling serang terhadap sasaran posisi militer secara terbatas.

Pesawat-pesawat jet tempur Israel, dilaporkan melancarkan serangan terbesar sejak perang Arab – Israel 1967 ke sejumlah posisi militer Iran di dekat ibukota Damaskus, Suriah, Kamis lalu (10/5).

Menurut versi Israel, mereka mengerahkan 28 pesawat tempur F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon untuk meluncurkan 60 rudal udara ke darat dan 10 rudal balistik dari darat ke 50 instalasi militer Iran berupa markas intelijen, pusat logistik dan gudang senjata di sekitar Damaskus.

Sedangkan Kantor Berita Suriah, SANA mengklaim, sistem pertahanan udara Suriah berhasil merontokkan sejumlah rudal yang ditembakkan Israel ke wilayahnya walau diakui beberapa diantaranya mengenai sasaran, namun sejauh ini belum ada pernyataan dari pihak Iran.

Sebaliknya, pihak Israel berdalih, serangan tersebut dilakukan sebagai aksi balasan atas serangan rudal yang dilancarkan satuan Al Quds dari Garda Revolusi Iran yang ditempatkan di wilayah Suriah ke sasaran militer Israel di dataran tinggi Golan, wilayah suriah yang direbutnya pada perang 1967.

Insiden sebelumnya terjadi, saat Israel berhasil menjatuhkan pesawat nirawak Iran yang diterbangkan dari wilayah Suriah untuk memata-matai wilayahnya yang kemudian dibalas dengan serangan udara ke sejumlah lokasi di Suriah yang diduga digunakan sebagai pangkalan pesawat nirawak itu.

Serangan Israel bertepatan pula dengan kemenangan loyalis Iran pada pemilu legislatif di Lebanon, Minggu lalu dan juga pasca keputusan Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran yang sebelumnya dibuat antara Iran dengan AS, Jerman, Perancis, Rusia, China dan Jermann serta hanya selang beberapa hari setelah pertemuan antara PM Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.

Sumber diplomat Barat menyebutkan, PM Israel dalam pertemuan itu meminta izin pada Putin untuk melancarkan serangan terbatas terhadap sasaran militer Iran dan Hesbollah di Suriah dan Lebanon.

Sebaliknya, Iran mengutus menlunya, Mohammad Javad Zarif untuk melancarkan misi diplomatik guna meminta dukungan dari China, Rusia dan Uni Eropa terkait kesepakatan nuklir pasca hengkangnya AS.

Presiden Trump bersikeras untuk mengenakan persyaratan baru terkait program nuklir Iran yang sudah disepakati pada 2015 lalu termasuk penghentian pengembangan rudal balistik yang tidak dimuat dalam perjanjian tersebut.

Kemungkinan Israel akan menyerang pusat-pusat reaktor nuklir Iran tidak bisa diabaikan seperti yang dilakukannya terhadap reaktor nuklir Irak di Osirak pada Juni 1981 walau agaknya jauh lebih sulit karena lokasi reaktor nuklir Iran yang terpencar dan juga dilindungi sistem pertahanan udara lebih andal.

Jika pecah perang terbuka antara Iran dan Israel, korban kedua belah pihak kemungkinan sangat besar mengingat keduanya memiliki kekuatan militer yang dahsyat. Israel menempati posisi ke-15 besar kekuatan militer dunia, sedangkan Iran pada urutan ke-21.

Israel walau memiliki pasukan lebih sedikit, sekitar 168.000 orang plus 550.000 anggota cadangan dibandingkan 534 ribu tentara Iran plus 400 ribu cadangan didukung Garda Revolusi dikenal sangat terlatih dan dilengkapi senjata modern.

Dari jumlah tank, Israel unggul dengan 2.620 buah termasuk tank tempur utama Merkava buatannya, sedangkan Iran hanya memiliki 1.616 tank ex-Uni Soviet seperti T-72 dan T-62 yang relatif sudah tua.

Di laut, Iran lebih perkasa a.l. memiliki 33 kapal selam, tiga korvet dan 32 kapal patroli cepat, sedangkan Israel hanya memilik enam kapal selam dan beberapa kapal kelas korvet dan puluhan kapal paroli cepat.

Di matra udara, Israel lebh unggul dengan 242 pesawat tempur a.l. F-15 dan F-16 serta yang terbaru F-35 buatan AS ditambah 243 pesawat serang darat dari berbagai jenis, sementara Iran mengoperasikan 137 pesawat tempur termasuk Mig-29 buatan Rusia, F-1 Mirage, dan pesawat F-14 Tomcat buatan AS yang relatif lawas.

Sebaliknya, Iran walau bertahun-tahun diembargo oleh AS dan negara-negara Barat lainnya, masih bisa mengembangkan rudal-rudal balistik buatan sendiri yang bisa menjangkau wilayah Israel dan juga didukung sistem pertahanan udara canggih buatan Rusia.

Sedangkan Israel memayungi wilayahnya dari serangan rudal lawan dengan sistem Iron Dome atau Kubah Baja menggunakan rudal-rudal buatan lokal dan Patriot buatan AS yang terbukti cukup efektif menangkal serangan rudal Scud ex-Uni Soviet yang diluncurkan Irak dalam Perang Teluk 1 (1990).

Iran sejauh ini dilaporkan mengandalkan sistem pertahanan udaranya dengan rudal-rudal S-300 buatan Rusia yang diintegrasikan dengan radar, alat-alat pelacak dan pendukung lainnya sedangkan Israel juga disebut-sebut memiliki senjata nuklir yang bisa jadi digunakannya sewaktu-waktu jika posisinya terdesak.

Yang jelas, jika perang tak terelakkan, berapa nyawa manusia lagi pasti bakal menjadi tumbalnya. Semoga ini tidak terjadi. (AP/AFP/Reuters/NS).

Advertisement