
HARGA minyak dunia kembali melonjak di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
CNBC seperti dikutip kompas.com, Kamis (28/5) menyebutkan, kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur distribusi melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak naik tajam setelah serangan terbaru militer AS ke wilayah Iran.
Kenaikan harga minyak sekaligus membalik tren pelemahan yang sempat terjadi sebelumnya ketika pasar berharap ada kemajuan dalam negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan prospek kesepakatan kembali dipenuhi ketidakpastian.
Harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional melonjak lebih dari tiga persen menjadi 97,29 dollar AS per barrel, sedangkan jenis WTI naik 3,42 persen menjadi 91,71 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga minyak dunia dipicu laporan mengenai serangan baru militer AS terhadap target-target militer Iran, Rabu (27/5).
Langkah tersebut memicu kekhawatiran bahwa pembicaraan damai yang sempat membuka harapan pasar kini justru berpotensi berubah menjadi eskalasi konflik yang lebih luas.
Iran melalui Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan pihaknya telah menargetkan sebuah pangkalan udara AS, Rabu AS sekitar pukul 04.50 waktu setempat.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Tasnim. Namun, IRGC tidak menjelaskan lokasi pangkalan udara yang dimaksud.
Serangan balasan Iran dilancarkan setelah pasukan AS menyerang sebuah lokasi militer di Iran yang diyakini mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada MS NOW bahwa serangan dilakukan terhadap fasilitas yang dianggap membahayakan keamanan pelayaran internasional.
Cegat dan jatuhkan beberapa drone
Militer AS dilaporkan berhasil mencegat dan menembak jatuh beberapa drone Iran. Pejabat dari Central Command AS menyebut tindakan tersebut bersifat defensif karena stasiun pengendali drone yang diserang disebut tengah bersiap meluncurkan drone kelima.
Selat Hormuz jadi perhatian pasar Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar minyak global karena jalur tersebut merupakan salah satu titik transit energi terpenting di dunia.
Ketegangan di kawasan itu selalu memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak mentah yang harganya sempat mengalami tekanan cukup dalam.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak mentah Brent dan WTI bahkan sempat turun lebih dari 7 persen karena pelaku pasar mulai optimistis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Optimisme itu didorong sinyal dari media Iran mengenai potensi perpanjangan gencatan senjata yang disebut akan mencakup pelonggaran sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan.
Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Rabu (27/5) yang menyebutkan ia tidak akan terburu-buru menadatangani kesepakatan damai dengan Iran kembali mengubah arah sentimen pasar.
“Jika itu kesepakatan yang bagus, kita bisa membuatnya sekarang, tetapi jika bukan kita tidak akan menandatanganinya, ” ujar Trump.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengatakan AS tidak sedang membahas pelonggaran sanksi ataupun pemberian dana kepada Iran.
Ia bahkan kembali melontarkan ancaman bahwa AS akan “menghabisi mereka” jika Iran tidak memenuhi syarat yang ditetapkan Washington.
Pernyataan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran pasar bahwa proses diplomasi akan berjalan lebih sulit dibanding perkiraan sebelumnya.
Perpecahan internal Iran
Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri Iran juga dinilai memperumit peluang tercapainya kesepakatan.
Dikutip dari OilPrice, laporan Financial Times menyebut kelompok ultra-garis keras di Iran mulai secara terbuka menyerang para negosiator yang mempertimbangkan kompromi dengan AS.
Kelompok tersebut menuntut Teheran tetap mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz dan menolak konsesi apa pun terkait pengayaan uranium.
Dibayangi ketidakpastian kondisi itu membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan terganggunya pasokan minyak global apabila konflik berkembang lebih jauh.
Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Pijakan pasar ditemukan
Citi Bank, Rabu malam (265) menyebut pasar minyak mulai menemukan pijakan lebih kuat setelah investor semakin mengesampingkan skenario terburuk gangguan pasokan di tengah tanda-tanda mendekatnya kesepakatan antara Washington dan Teheran .
Meski demikian, Citi memperingatkan ketidakpastian mengenai waktu tercapainya kesepakatan masih membuat bank-bank sentral tetap waspada.
“Para pembuat kebijakan mempertimbangkan pengaturan moneter yang lebih ketat sebagai respons terhadap risiko inflasi yang dipicu energi,” tulis Citi.
Menurut Citi, reli panjang harga minyak mentah mulai menimbulkan tekanan inflasi yang lebih luas, terutama melalui dampak lanjutan atau second round effects.
Kondisi tersebut mendorong sebagian bank sentral mengambil sikap lebih hawkish. Kenaikan harga energi memang berpotensi memicu tekanan inflasi di berbagai sektor karena biaya transportasi dan produksi ikut meningkat.
Situasi itu menjadi perhatian bank sentral di berbagai negara yang masih berupaya menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Stok minyak AS turun Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat dorongan dari data persediaan minyak mentah AS yang menunjukkan penurunan cukup signifikan.
American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 2,8 juta barrel pada pekan lalu.
Penurunan tersebut menjadi penurunan mingguan keenam secara berturut-turut. Data itu memperkuat pandangan bahwa pasar fisik minyak masih berada dalam kondisi ketat.
Penurunan stok biasanya dipandang sebagai sinyal meningkatnya permintaan atau terbatasnya pasokan sehingga mendukung kenaikan harga.
Pelaku pasar kini menunggu data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis Kamis waktu setempat.
Publikasi data sempat tertunda satu hari karena libur Memorial Day di AS. Kondisi pasar minyak saat ini memperlihatkan bagaimana sentimen geopolitik dan faktor fundamental saling memengaruhi.
Di satu sisi, harapan diplomasi sempat menekan harga minyak karena pasar memperkirakan distribusi energi akan kembali normal.
Namun di sisi lain, perkembangan konflik terbaru membuat kekhawatiran terhadap pasokan kembali mendominasi.
Untuk sementara, gencatan senjata masih bertahan dan pembicaraan antara pihak-pihak terkait tetap berlangsung.
Meski begitu, risiko lonjakan harga minyak dinilai masih akan tetap tinggi hingga tercapai kesepakatan damai yang lebih permanen dan solusi jangka panjang untuk menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar global terus mencermati perkembangan politik dan militer di kawasan Timur Tengah.
Perubahan situasi dalam waktu singkat dapat langsung memengaruhi harga minyak dan sentimen pasar keuangan global.
Di tengah ketidakpastian itu, pergerakan harga minyak diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap setiap pernyataan politik, langkah militer, maupun perkembangan diplomasi antara AS dan Iran.




