Pengorbanan Tanpa Jeda Bangsa Palestina

Seratus delapan warga Palestina tewas dan ribuan luka-luka bentrok dengan aparat Israel dalam unjukrasa maraton sejak 13 Maret lalu guna memperingati hari Nakba atau 70 tahun eksodus bangsa itu pada pasca kemerdekaan negara Yahudi tersebut pada 14 Mei l948.

EMPATI dan dukungan nyata pantas diberikan kepada bangsa Palestina termasuk kaum remajanya yang telah berjuang tanpa mengenal lelah dengan air mata dan darah dalam kurun waktu 70 tahun terakhir untuk membela tanah airnya.

Aksi mogok massa terus berlangsung sejak peringatan eksodus warga Palestina dari kampung halaman mereka ke negara-negara Arab pada 15 Mei 1948 atau dikenal denga Hari Nakba, menyusul deklarasi kemerdekaan Israel yang diumumkan sehari sebelumnya (14 Mei 1948).

Sebanyak 108 orang warga Palestina dilaporkan tewas dalam rangkaian aksi-aksi mereka yang digelar sejak Hari Bumi pada 13 Maret lalu hingga 14 Mei.

Pada hari Senin lalu (14/5) saja, menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina, 61 warganya tewas dan 2.700 orang mengalami luka-luka akibat bentrokan berdarah dengan pasukan negara Yahudi di tapal batas Israel – Palestina, suatu jumlah korban terbesar sejak agresi Israel ke wilayah Palestina ke Jalur Gaza pada 2004.

Walau pun eskalasi bentrokan lebih kecil, pada keesokan harinya, Selasa (15/5), insiden fisik antara pemuda Palestina dan pasukan Israel masih berlangsung di sejumlah lokasi di perbatasan kedua negara di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Puluhan pemuda Palestina dilaporkan terluka saat itu.

Sementara di kota Bethlehem dilaporkan para pemuda Palestina berunjuk rasa dengan membakari ban-ban mobil bekas, sementara di Ramallah, ratusan pemuda yang bergerak menuju pos polisi Israel dihalau dengan gas air mata. Di wilayah Jalur Gaza gerakan sejumlah pemuda Palestina tertahan oleh barikade kawat berduri yang dipasang aparat keamanan Israel di tapal batas wilayah.

Masyarakat Internasional melontarkan reaksi keras mereka atas jatuhnya banyak korban, bahkan Afrika Selatan, Irlandia dan Turki menarik dubes mereka di Israel, dan lebih dari itu, Turki juga meminta dubes Israel segera meninggalkan negeri itu.

Liga Arab dan Dewan Keamanan PBB dijadwalkan segera akan menggelar sidang darurat menyikapi kejadian tersebut, sedangkan Turki mendesak Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyelenggarakan sidang darurat di Istanbul guna merespons aksi semena-mena pasukan Israel terhadap warga sipil Palestina.

RI selain mengecam keras aksi-aksi yang dilakukan oleh pasukan Israel, juga mendesak agar DK PBB segera bersidang dan mengambil langkah investigasi secara independen atas peristiwa berdarah itu.

Kedaulatan Palestina diakui oleh mayoritas anggota PBB dalam status sebagai negara peninjau non-anggota pada 30 Nov. 2012, diikuti parlemen Inggeris, pemerintah Swedia, Tahkta Suci Vatikan dan kemudian pada 30 Sept. 2015 bendera Palestina pertama kalinya berkibar di kantor PBB di New York, sementara pada 6 Desember 2017 Presiden AS Donald Trump menyatakan Jerusalem sebagai ibukota Israel, dipindah dari sebelumnya, Tel Aviv.

Masyarakat internasional juga memboikot upacara peresmian pembukaan kedubes AS di Jerusalem, Senin (14/5) lalu yang antara lain dihadiri oleh puteri Donald Trump, Ivanka bersama suaminya, Jared Kushner dan perwakilan 34 negara lainnya.

Sebaliknya, 50 duta besar dari negara-negara Eropa, Amerika Latin , Rusia dan China serta dari negeri-negeri Asia lainnya serta Arab menolak hadir dalam acara pembukaan kedubes AS itu dan juga menolak memenuhi undangan PM Israel Benjamin Netanyahu pada resepsi diplomatik khusus untuk menyambut pemindahan kedubes AS itu.

Perjuangan bangsa Palestina agaknya masih panjang dan memerlukan dukungan nyata komunitas internasional termasuk dunia Islam dan negara yang mayoritas penduduknya muslim seperti Indonesia. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement