
GUBERNUR DKI Anies Baswedan berencana, tgl. 26 Mei mendatang ada gelaran salat tarawih di lapangan Monas. Tapi meski konon sudah konsultasi dengan ulama, setelah berdiskusi dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) akhirnya dibatalkan dan dipindahkan ke Mesjid Istiqlal. Di mana-manapun, yang namanya salat tarawih memang di mesjid, baik itu di kota maupun pedesaaan. Dari dulu sampai sekarang masih begitu.
Bagi anak desa, salat tarawih di mesjid kampung sangat ditunggu-tunggu. Soal besarnya pahala dari salat sunat tersebut, belumlah kepikiran! Yang penting selesai menjalankan salat tarawih bersama, anak-anak berebut jaburan. Menu itu sangat sederhana, hanya rujak degan yang lebih tepat mbilworok (kambil tuwa dikerok), yakni air gula dicampur kelapa tua yang dikerok. Tapi anak-anak sangat menikmatinya.
Ini kisah tarawih tahun 1960-an di daerah Kec. Ngombol Kab. Purworejo (Jateng) bagian selatan. Tarawih di desa Pulutan itu sebanyak 23 rakaat, karena para santri di desa tersebut penerus leluhur yang dulu berguru pada KH. Hasyim Asy’ari di Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Ketika Gus Dur wafat 30 Desember 2009, nada puji-pujian para santrinya persis dengan tarawihan di Ngombol itu.
Berbeda dengan salat tarawih anak sekarang, kala itu anak-anak tidak ikut salat. Yang salat hanya para santri yang jumlahnya tak lebih sekitar 8 orang, termasuk imam. Yang makmum tak ada baris kedua. Tempatnya juga bukan di mesjid atau langgar, melainkan di rumah Pak Kaum. Tak ada pengeras suara untuk imam, lampu penerangan juga hanya lampu gantung berbahan bakar minyak tanah.
Salat tarawih langsung dimulai begitu salat Isya selesai, tak ada kultum (kuliah 7 menit) seperti yang biasa terjadi sekarang. Cara salatnya dua rakaat salam, dua rakaat salam, sampai berjumlah 10 kali dan diteruskan dengan witir. Meski tak ikut salat, waktu itu lumayan lama bagi anak-anak. Maka mereka pun mencatat, jika yang jadi Pak Kaum sendiri, salatnya cepat. Tapi jika umamnya Siwa Dono, pada “menggerutu”, wah bakalan lama nih.
Padahal, lama atau cepat waktu tarawih itu, sebetulnya tak begitu terasa bagi mereka, sebab saat salat berlangsung disambi berkelakar dengan teman-temannya. Misalkan saat imam selesai baca surat Alfatikhah, ada yang menjawab “amin” dengan panjang sekali. Bahkan ada pula yang menjawab “hamiiin…..”
Ketika salat witir selesai dan dilanjutkan dengan doa, anak-anak mulai ancang-ancang untuk antri jaburan. Ada yang membawa gelas sendiri dari rumah, ada pula yang cukup pakai cangkir yang disediakan istri Pak Kaum. Jika jaburan itu pakai kolang-kaling, anak-anak suka nakal. Tak puas diambilkan Bu Kaum pakai gayung kecil, tangan pun masuk ke mandeng (kuali kecil) untuk gogoh (mencari) biji-biji kolang kaling. Keruan saja yang belum kebagian jadi kehilangan selera minumnya.
Itu masih lumayan. Di tetangga desa masih kecamatan yang sama, keisengan anak makin kurang ajar lagi. Diam-diam mandeng isi jaburan itu dimasuki ikan bethik hidup. Saat jaburan hampir habis, barulah ikan tersebut tampak menggelepar di dasar mandeng. Bocah bubar dan Pak Kaum marah. Begitu ketemu “dalang”-nya langsung dihukum untuk menghabiskan sisa jaburan yang tak terminum anak-anak karena jijik itu.
Tradisi jaburan kini semakin tergerus zaman, di manapun. Apa makna jaburan itu sendiri, hingga kini belum jelas. Ada yang bilang sebagai asal kata “njebur” yang berarti terjun, maksud secara total mengikuti ibadah bulan Ramadhan. Ada pula yang memaknai berasal dari kata “bur” atau terbang, yang berarti para penyumbang jaburan itu benar-benar ikhlas. (Cantrik Metaram).




