Setan Kurang Kerjaan

Pelajar SMP Berau Kaltim, mengalami kesurupan masal.

SEORANG pengendara sepeda motor di Bengkulu, beberapa hari lalu mencoba mengerjai polisi. Saat ditilang, pemuda bernama Iwan ini malah berlagak kesurupan, agar tak jadi ditilang. Ini kan sama saja mencatut nama setan. Orang tidak kesurupan kok ngaku kemasukan setan, itu kan berarti menjual nama setan. Tapi setan sendiri belakangan memang suka kurang kerjaan, masak pelajar SMP di mana-mana dibuat kesurupan. Ini kan keluar dadi misi kalangan setan.

Di era gombalisasi ini rupanya setan semakin suka iseng, sampai terlepas dari misi kehidupannya, yakni mengajak orang masuk neraka. Bagaimana tidak, di mana-mana merasuki pelajar SMP secara masal. Memangnya pelajar kerasukan setan itu termasuk dosa, sehingga bisa ikut paket bareng masuk neraka?

Tugas dan misi yang diemban setan memang untuk menggoda umat, agar bisa dijadikan teman di dalam apinya neraka secara permanen. Setan sebagai onderbouw iblis, ketika diperintahkan Allah Swt untuk menyembah Nabi Adam saat diciptakan kali pertama di dunia, menolak. Alasannya, iblis dan onderbauw-nya itu diciptakan dari api, sedangkan manusia hanya dari tanah. Masak api tunduk pada tanah? Justru tanah yang harus tunduk pada api. Buktinya, ketika tanah dipotong-potong dan dibakar, jadilah dia batu bata untuk bangun rumah!

Sedangkan tanah, tak mungkin mengalahkan api. Dalam peristiwa kebakaran misalnya, tak ada petugas Pemadam Kebakaran melempari rumah yang terbakar dengan tanah, pastilah disemprot pakai air. Melempar jumrah dalam ibadah haji pun, harus pakai kerikil sebanyak 28 buah. Setan hanya takut diusir dengan lemparan kerikil, bukan lempung!

Demikianlah, setan sedari awal diciptakan memang punya target untuk menjadikan umat manusia teman  di neraka. Seperti disebutkan dalam Qur’an surat Shad ayat 82-83, “Iblis menjawab: demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” Nah, karena misi tersebut setan selalu berusaha menggoda umat manusia selama 24 jam nonstop.

Namun di era gombalisasi ini, ternyata seperti manusia setan suka slewengan, lari dari misi yang diembannya. Buktinya, dari mereka ada yang mengajak orang ngomong ngaco alias kesurupan. Ini cukup banyak dan sasarannya pelajar lagi. Padahal orang kesurupan kan bukan bagian dari dosa, karena dalam agama orang tidak berakal gugur dari sanksi dosa.

Lihat saja di internet, begitu banyak murid atau –bahasa keren pejabat Depdibud– peserta didik, yang kesurupan secara masal. Di Sumenep (Madura) misalnya, 21 Maret lalu puluhan murid SMPN Dungkek kesurupan masal. Lalu di SMPN Kartosura (Solo), 23 Mei 2017 juga 31 muridnya kesurupan. Begitu juga di SMPN 15 Yogyakarta, puluhan muridnya pada Nopember 2017 juga kampiran setan.

Jika semua disebutkan, masih ombyokan siswa-siswa SMP yang mendadak histeris dan bingung gara-gara kesurupan. Yang menjadi pertanyaan, kenaa korban yang disasar seten-setan itu kebanyakan pelajar SMP, kenapa bukan yang SD bahkan TK. Jangan-jangan setannya takut sama Komisi Perlindungan Anak.

Yang jelas, kerja setan-setan yang demikian itu sudah termasuk kontra produktif untuk profesi dan misi mereka. Menggoda orang untuk berbuat durjana, jelas akan lebih efektip bagi setan berikut jajarannya. Tapi kalau bikin pelajar kesurupan, apa yang jadi target? Sia-sia belaka bukan? Tapi begitulah setan yang kurang kerjaan. (Cantrik Metaram)

Advertisement