Keakraban di Imah Gede Kasepuhan Sinar Resmi

Keakraban di Imah Gede Kasepuhan Sinar Resmi. Dari kiri: Ahmad Juwaini (Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi), Bambang Widjojanto (Mantan Wakil Ketua KPK), Parni Hadi (Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa), Abah Asep Nurgraha (Pemimpin Adat Sinar Resmi), Ambu Noor (Isteri Abah). Foto:Maifil/KBK

Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok, Sukabumi terlihat damai, di sore hari yang tenang. Angin hanya berhembus sepoi, matahari sudah mulai merangkak ke dalam ufuk, hanya sinar terangnya saja yang masih mampu memvisualkan area kasepuhan terlihat indah temaram.

imahgedeBunyi serangga pun memecah kesunyian sore itu. Imah gede yang terbuat dari papan dan bambu serta beratap ijuk berdiri memanjang didampingi berbagai bangunan perumahan tradisional milik penduduk dan leuit (gudang padi) milik kasepuhan yang eksotik. Di halamannya terparkir beberapa mobil, ada yang nomor seri plat Bogor adapula yang bernomor seri Jakarta.

Di belakang bangunan yang sebenarnya seperti istana itu, terhampar luas sawah yang menghijau penuh dengan tanaman padi. Di ujungnya ada pula bukit dan Gunung Halimun yang berdiri kokoh seperti raksasa yang memagari wilayah kasepuhan.

Hari itu, Kamis (14/1/2016), kasepuhan didatangi banyak tamu. Beberapa orang berpakaian hitam, dengan khas Iket Sunda  (ikat kepala Sunda), berinteraksi dengan tamu itu di halaman.

Prosesi penyambutan tamu di Sinar Resmi
Prosesi penyambutan tamu di Sinar Resmi

Beberapa orang pria menari-nari menggoyangkan Pocong Padi yang diikatkan ke bambu yang berdiameter 20cm yang dikenal dengan Rengkong. Tali pengikat pocong yang digoyang-goyang itu bergesekan dengan bambu sebagai penyandangnya. Itu menimbulkan suara yang unik. Ditingkah pula dengan hantaman alu ke lesung kayu yang dimainkan beberapa orang ibu-ibu (Ngagendeg) dan goyangan  Dog dog lojor (sejenis angklung), semakin menimbulkan ritme nada yang gembira dan menebar energi postif pada setiap tamu yang tiba.

Itu adalah cara Kasepuhan Sinar Resmi menyambut tamu kehormatan, ketika itu yang datang adalah Parni Hadi (Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa ), Bambang Widjojanto (Mantan Wakil Ketua KPK), Ahmad Juwaini (Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi), Imam Rulyawan (Direktur Program Dompet Dhuafa Filantropi), Bambang Suherman (Direktur Penggalangan Sumber Daya Dompet Dhuafa Filantropi), Teddy Prio Utomo (Direktur Asuransi Astra Syariah (AAS)/ Donatur DD) dan tim DD lainnya.

Para tamu dipersilahkan masuk ke Imah gede, setelah disambut dengan tari-tarian dan bunyi-bunyian tradisi di halaman. Di dalam Imah Gede sudah disediakan makanan khas dari kasepuhan. Terlihat ada kue-kue kecil dan nasi dengan dua jenis beras; berwarna merah dan ungu, disertai beberapa lauk dan makanan khas lainnya.

Di dalam Imah Gede ini, Abah Asep Nugraha, 50 tahun, Pemimpin Adat Kasepuhan Sinar Resmi dan Ambu Noor, 49 tahun, isteri Abah, menyambut tamu dengan senyuman. Para Asisten Abah ikut bersalaman sambil mempersilahkan tamu memasuki  ruangan dan duduk di ruang tengah istana tersebut.

Di sini, terlihat  Parni Hadi sangat akrab dengan Abah, ia mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke kasepuhan Sinar Resmi. Jadi pertemuan kali ini memang terlihat melepas kangen, baik Parni Hadi, Abah dan Ambu tak henti berkelakar, senyum dan canda melepas tawa senang.

“Kedatangan kali ini menambah kuat ikatan kemitraan Dompet Dhuafa dan Kasepuhan Sinar Resmi dalam pemberdayaan,” ujar Parni Hadi yang juga pendiri Lembaga Pemberdayaan Dompet Dhuafa (DD) membuka pembicaraan.

Tugas DD, kata Parni, adalah memberdayakan bukan mengabadikan. “Kalau memberdayakan maka dia akan lestari, tumbuh dan berkembang. Sementara kalau mengabadikan berarti membekukan tidak ada perkembangan di dalamnya,” jelas wartawan senior ini.

Di Sinar Resmi, lanjut Parni Hadi, yang diberdayakan DD adalah potensi yang sangat luar biasa, yang dimiliki  kasepuhan yang masih memegang teguh adat budaya dan tatanan prosesi pertanian yang unik  dengan jenis-jenis padi yang khas yang mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain.

Acara pengikatan padi yang akan dimasukkan ke Leuit (Gudang Padi). foto: Ambu Noor
Acara pengikatan padi yang akan dimasukkan ke Leuit (Gudang Padi). foto: Ambu Noor

“Kasepuhan Sinar Resmi secara turun temurun mempertahankan prosesi adat dalam budi daya pertanian,” ungkap Abah Asep Nugraha menimpali.

Abah mengklaim, memiliki ratusan jenis padi yang ditanam warganya, namun baru 68 jenis yang  sudah teridentifikasi dan 34 jenis yang sudah dibankkan oleh DD di Pesanggerahan Bank Bibit di Sinar Resmi.

“Untuk ini saya sebagai Pimpinan Adat Sinar Resmi sangat berterimakasih kepada Dompet Dhuafa karena turut membantu kami dalam menjaga pelestarian bibit padi yang dimiliki oleh Sinar Resmi,” ungkap Abah Asep.

Ternyata hal inilah yang membuat Parni Hadi, Abah dan Ambu terlihat sangat akrab, karena kehadiran DD di Sinar Resmi sudah dimulai sejak 2014 lalu, ketika Bank Bibit yang diinisiasi DD hadir di Sinar Resmi. Sejak itu pula Parni Hadi, Pimpinan DD dan Tim ekonomi DD bolak-balik berkunjung ke kasepuhan ini.

Bahkan DD menunjuk tim pendamping pertanian yang berdomisili di Sinar Resmi dan sudah bergerak melakukan riset terhadap bibit padi milik kasepuhan.  DD juga sudah membeli sawah untuk pengembangan bibit yang sudah teridentifikasi.

“Kalau tidak demikian, bisa saja kekayaan berbagai jenis padi unggulan milik Sinar Resmi akan punah,” ingat Parni Hadi.

Dengan adanya Bank Bibit, lanjut Parni Hadi, maka jenis-jenis padi akan lestari dan dapat dibudidayakan, yang pada akhirnya tetap menjadi kekayaan yang memakmurkan warga hingga anak cucunya di Kasepuhan Sinar Resmi ini.

Tidak lama, perbincangan terhenti sejenak, Ambu dan Abah mengajak Parni Hadi dan rombongan menikmati makanan hasil pertanian di Sinar Resmi. Malam itu pun nasi merah dan ungu menjadi pati dari ke akraban di Imah Gede tersebut.

Advertisement