Telurpun Bisa Terbang

Karikatur melejitnya harga telur ayam. Benarkah ada hubungangannya dengan Piala Dunia di Rusia?

KUDA terbang hanyalah kisah di dunia dongeng, ataupun perwayangan. Kalau dalam alam nyata, kuda terbang sekedar merk cat legendaris yang ada sejak tahun 1960-an. Tapi telur terbang, kini juga ada dalam kehidupan nyata. Tanyakan saja pada ibu-ibu rumahtangga dan tukang bikin kue, harga telor ayam negri meroket. Biasanya sekilo Rp 22.000,- kini terbang sampai Rp 30.000,-

Dalam dunia wayang, kisah kuda terbang adalah milik Dewi Wilutama bidadari yang terkena kutukan dewa, sehingga terusir dari kahyangan dalam bentuk seekor kuda yang bisa terbang. Saat dia terbang melanglang buana, terdengar sayup-sayup suara anak muda menggelar pasang giri (sayembara). “Barang siapa bisa menerbangkan aku melintasi laut ini untuk menuju negeri Pancala, jika lelaki akan kujadikan sahabat, jika wanita kujadikan istri,” kata pemuda yang bernama Kumbayana.

Bagi kuda penjelmaan Dewi Wilutama, ini sayembara yang lebih menarik ketimbang tebakan ikan-ikanan berhadiah sepeda. Diapun mendekat dan siap menyeberangkan ksatria muda itu lewat penerbangan perdana Ngatasangin – Pancala, yang ditempuh selama 45 menit. Dalam penerbangan bebas rokok tersebut, Kumbayana merasakan, bukan naik kuda perempuan lagi, tapi bercengkerama dengan bidadari cantik. Posisi duduknya pun mundur-mundur dan terjadilah hubungan intim di atas langit 10.000 kaki itu. Ketika bayi itu lahir saat mendarat, diberi nama Aswatama dan Kumbayana sendiri bergelar Durna dalam arti: mundur-mundur kena!

Nah, bagaimana dengan kisah telur terbang? Biasanya harga telur ayam naik menjelang Lebaran. Tapi kini, Lebaran sudah lewat harga telur ayam negri justru melejit, dari Rp 22.000,- sekilo menjadi Rp 30.000,-  Kata Mentri Perdagangan Enggartiasto, telur terbang terjadi karena terdampak naiknya harga pakan. Yang pusing tentu saja para ibu rumahtangga, pedagang Warteg termasuk tukang bikin kue dan pabrik roti. Bagaimana harus menyiasati, sebab telur ayam tak bisa diganti dengan telur enthok apa lagi endog kodok.

Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang bukan hanya menjadi makanan kesukaan penduduk negara kita, tapi juga seluruh penduduk dunia. Telur dapat dimasak sesuai dengan selera mulai dari dengan cara direbus, digoreng atau bahkan dibuat sambal balado. Beragam makanan dari telur tersebut memiliki rasa yang enak dan yang pasti mampu membuat banyak orang ketagihan.

Bagi beberapa orang termasuk di dalamnya adalah para binaragawan, banyak dari mereka yang gemar mengonsumsi telur secara langsung tanpa terlebih dahulu mengolahnya. Ade Ray misalnya, sehari harus makan telur mateng 20 butir, sehingga badannya tetap berotot macan Raden Gatutkaca, otot balung wesi keringet wedang kopi.

Manusia hidup memang tak bisa dipisahkan dengan telur, baik itu ayam negri, ayam kampung maupun telor bebek. Semua penting disesuaikan dengan fungsinya. Ada untuk ramuan kue, bikin telur dadar, telur mata sapi. Bahkan lelaki tua yang masih semangat muda, banyak yang mengkosumsi telur ayam dicampur dengan madu. Katanya bisa menambah stamina, sehingga di ranjang masih rosa-rosa macam Mbah Marijan.

Dalam upacara tradisi Jawa, telur juga banyak dimanfaatkan. Misalnya untuk prosesi panggih dalam sebuah perkawinan. Pengantin pria menginjak telur, kemudian kaki dibersihkan oleh istrinya. Dalam acara Grebeg Mulud di Kraton Yogyakarta dan Surakarta, telor bebek yang dicat merah juga banyak dijual dalam bentuk rentengan (dirangkai jadi satu).

Bagi anak-anak sekarang, makan telur rebus 1-2 butir merupakan hal biasa. Tapi jaman tahun 1960-an ketika ekonomi masih susah, makan telur rebus sebutir dibagi delapan. Bahkan anak-anak ketika menemukan telur bebek di pinggir kali, senangnya luar biasa. Presiden Jokowi dalam masa kecilnya di Solo, juga punya kenangan seperti itu.

Kebanyakan orang menggemari telor, baik yang direbus maupun digoreng. Rasanya memang lezat. Tapi kata orang, paling enak adalah endhog maratuwa. Apa pula itu? Istilah tersebut mengandung makna: anak dari mertua alias istri kita sendiri. Maka kidhalang Anom Suroto sering mengatakan, “Kita harus berbakti pada mertua, karena dia telah memberikan jumbuhing rasa nikmat (memberikan kenikmatan) pada setiap lelaki. Meski sebetulnya mertua itu juga kena “karma” dari mertuanya dulu. Jelasnya, karena kita mengawini anak orang, anak kita kelak juga bakal dikawini orang!

Begitu pentingnya telur dalam kehidupan manusia, orang Jawa sampai punya pepatah atau paribasan “ilang-ilangan endhog siji”. Kata-kata itu dilontarkan, mana seorangtua sedang marah besar pada anaknya yang bandel dan keras kepala. Maksud kata-kata itu adalah, orangtua mengutuk dan mengikhlaskan anak satu-satunya untuk pergi selamanya alias diusir dari rumah. (Cantrik Metaram)

Advertisement