Amnesty Desak AS Selidiki Kekerasan UEA di Yaman

Ilustrasi pasukan keamanan UEA di perbatasan Yaman/ MEMO
WASHINGTON – Amnesty International mendesak Amerika Serikat  menyelidiki penggunaan penahanan dan penyiksaan oleh Uni Emirat Arab di Yaman, karena menurut Amnesty  AS mendukung kampanye militer UEA di Yaman.
Amnesti menyerukan Kongres AS untuk menekan Presiden Donald Trump untuk mengutuk UEA atas penyiksaan dan penahanan sewenang-wenang.

Ditekankan bahwa jika Amerika Serikat gagal untuk meminta pertanggungjawaban UEA, itu akan mendorong penganiayaan lebih lanjut terhadap warga sipil.

Menurut Amnesty UEA sewenang-wenang menahan dan menyiksa warga sipil Yaman dalam jaringan penjara rahasia. Penjara rahasia semacam itu melanggar hukum. Lebih lanjut, Tawfik Al-humaidi, seorang aktivis politik dan hak asasi manusia Yaman, telah mengatakan bahwa AS menyediakan pelarangan penyalahgunaan UEA di Yaman.

Berdasarkan ini, Al-humaidi telah menuntut agar lembaga-lembaga hak asasi manusia dan yudisial AS mengajukan keluhan terhadap UEA.


Amnesty mengatakan bahwa mereka menyelidiki 51 kasus pria yang ditahan oleh pasukan keamanan Yaman, yang didukung oleh UEA, antara Maret 2016 dan Mei 2018, di provinsi Aden, Lahij, Abyan, Hadhramaut dan Shabwah dan  19 masih hilang.
Ia juga mengklaim telah mendokumentasikan “penggunaan meluas dari penyiksaan dan tindakan penganiayaan lainnya di pusat penahanan Yaman dan Emirat.”

“UEA, yang beroperasi dalam kondisi bayangan di Yaman selatan, tampaknya telah menciptakan struktur keamanan paralel di luar hukum, di mana pelanggaran yang mengerikan terus berlangsung tanpa terkendali,” kata Tirana Hassan, Direktur Penanggulangan Krisis di Amnesty International. “

“Pada akhirnya pelanggaran ini, yang sedang terjadi dalam konteks konflik bersenjata Yaman, harus diselidiki sebagai kejahatan perang, ” tandasnya, dilansir Middle East Monitor, Jumat (20/7/2018).
Advertisement