Pemilu Zimbabwe: Kemenangan (Curang?) Petahana

Presiden petahana Zimbabwe Emmerson Mnangagwa memenangi lagi pemilu yang digelar 30 Juli lalu, namun kelompok oposisi pimpinan Nelson Chamisa menolak hasil pemilu karena ia menuding terjadi kecurangan dalam penghitungan suara.

KELOMPOK oposisi Gerakan untuk Perubahan Demokrasi (MDC) pimpinan Nelson Chamisa menolak kemenangan Presiden petahana Emmerson Menangagwa yang memimpin Persatuan Nasional Afrika Zimbawe Front Patriotik (ZANU-PF) dalam Pemilu yang digelar, 30 Juli lalu dengan tuduhan terjadi sejumlah kecurangan dalam peghitungan suara.

Menurut Chamisa, hasil perhitungan suara telah dimanipulasi sehingga aliansi MDC akan menggunakan hak konstitusionalnya untuk mengajukan kasus ini ke pengadilan.

Menurut dia, kotak-kotak suara yang diangkut dengan truk-truk bak terbuka banyak yang dirusak di tengah jalan oleh kelompok tertentu. Ia heran, hasil pemungutan suara yang disampaikan komisi pemilu bentukan parlemen jauh berbeda dengan hasil poll yang dikeluarkan kantor presiden.

“Lagipula, saksi-saksi dari partai kami tidak diizinkan memverifikasi hasil perolehan suara, “ ujar Chamissa. Berdasar pengumunan Komisi Pemilu, Menangagwa meraih 50,8 persen suara dan lawannya, Chamisa 44,3 persen. Chamisa lebih jauh menilai, telah terjadi pembusukan moral, defisit nilai dan ketidakpercayaan.

“Ini mengherankan,” tutur Chamisa dalam cuitannya.

Sementara Menangagwa dengan dingin menanggapi tudingan hasil pemilu yang dilontarkan Chamisa dengan menyatakan, di bawah konstitusi semua orang bebas menuntut haknya ke pengadilan, namun Menangagwa meminta Chamisa yang dinilainya sebagai tokoh yang bereran penting bagi masa depan Zimbabwe untuk bersama-sama dan kompak membangun negeri.

“Saya menjadi presiden untuk (mereka) yang memilih saya mau pun tidak, “ tandasnya.

Pemilu yang digelar pascapengunduran diri presiden sebelumnya, Robert Mugabe yang berkuasa selama 37 tahun pada November lalu disambut antusias oleh warga dengan partisipasi pencoblos mencapai lebih 80 persen. Kemenangan Menangagwa yang didukung militer menempatkannya untuk menjabat kedua kalinya di negeri di Afrika tengah berpenduduk sekitar 17 juta jiwa itu.

Namun pengamat iternasional yang memantau jalannya pemilu menilai, penyelenggaraan pemilu kali inin berlangsung relatif damai, berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, namun menyayangkan penggunaan kekuatan militer berlebihan dan mengritik penundaan pengumuman hasil perhitungan, karena berpotensi terjadinya manipulasi dalam penghitungan suara.

Jika gugatan Chamisa diterima oleh pengadilan, tentu jalan masih panjang bagi Menangagwa untuk kembali lagi ke tampuk kekuasaan kedua kalinya. (AP/AF/Reuters/ns)

Advertisement