
BERBAGAI pekerjaan dan pembenahan terus dikebut menjelang hari “H” helat olahraga terakbar di Asia, Asian Games ke-18 yang akan digelar di Jakarta dan Palembang 18 Agustus sampai 2 September yang sudah di hadapan mata.
Proses pekerjaan pembangunan atau renovasi venue-venue pertandingan yang semula cukup mendebarkan karena berpacu dengan waktu ternyata sudah dinyatakan siap digunakan untuk menggelar 465 nomor pertandingan di 40 cabang olahraga (cabor) yang diperlombakan 11.000 atlit-atlit dari 45 negara Asia, didampingi 4.400 ofisial dan diaksikan sekitar 170.000 pendukung.
Terkait prestasi, tentu tidak mudah untuk menggapai target 10 besar atau 16 medali emas di tengah keterpurukan prestasi olahraga nasional dalam dekade terakhir ini, juga mengingat persiapan sejumlah cabor yang molor akibat lambatnya kucuran dana yang menganggu pengadaan peralatan, jadwal latihan dan ujicoba, belum lagi adanya kericuhan manajemen di beberapa cabor serta kendala teknis lainnya.
Menurut catatan, pencapaian tertinggi diraih saat RI menjadi tuan rumah Asian Games 1962 saat menempati peringkat kedua setelah Jepang dengan perolehan 77 medali (21 emas, 26 perak dan 30 perunggu), namun sejak AG Hiroshima 1994, peringkat RI terus melorot di atas 10 besar, bahkan pada AG 2006 di Doha, Qatar anjlok ke posisi ke-22, sedangkan pada AG Incheon,Korsel 2014 di peringkat ke-17.
Pada aspek di luar olahraga, para atlit, ofisial dan pendukung dari negara-negara tamu tentu juga menuntut keamanan dan kenyamanan selama mengikuti event-event di Jakarta mau pun di Palembang .
Ribuan aparat gabungan TNI dan Polri dikerahkan untuk menjamin keamanan duta-duta olahraga itu. Simulasi juga dilakukan menghadapi ancaman teroris dan pengacau yang berpotensi memanfaatkan situasi, begitu pula melancarkan operasi pemberantasan preman dan kejahatan jalanan yang aksi-aksi mereka dapat mencoreng wajah bangsa dan negara.
Khusus untuk mengantisipasi kebakaran lahan di sekitar Palembang, aparat keamanan juga menyebar 8.500 personil di 55 desa rawan kebakaran di Sumatera Selatan.
Kemacetan lalu lintas
Khusus Jakarta, selain aksi kejahatan jalanan, kemacetan lalu lintas akut merupakan persoalan krusial yang sulit diatasi walau sudah dibangun LRT yang diharapkan dapat difungsikan menjelang helat AG ke-18.
Dari simulasi yang dilakukan, termasuk dengan menutup sementara sejumlah pintu gerbang tol dan pengalihan arus lalulintas dari ruas-ruas jalan tertentu, persoalan tetap masih mencemaskan.
Penutupan gerbang tol, pengaturan nomor plat ganjil-genap dan rekayasa lalulintas lainnya ternyata hanya memindahkan kemacetan, bahkan dikeluhkan oleh sejumlah warga yang terimbas termasuk menurunnya omset penjualan di sentra-sentra bisnis.
Terkait lingkungan, penanganan darurat Kali Sentiong atau Kali Item di kawasan Kemayoran, salah satunya dengan menutup dengan jaring nilon hitam sepanjang 685 meter untuk mencegah baunya agar tidak menyebar ke Wisma Atlit di dekatnya, juga menimbulkan polemik serta tidak luput dari liputan pers asing. Channnel News Asia bahkan mengangkat judul tulisan: “Pemprov DKI Jakarta tutup kali beracun dan bau dekat perkampungan Asian Games”.
Pelajaran bagi para pemimpin mendatang, membangun kota atau peradaban kota tidak bisa dilakukan secara instan atau “bim salabim”, dengan bersolek menjelang perhelatan, tetapi harus jangka panjang, mulai dari membangun karakter warga, penataan lingkungan dan pembangunan sarana dan prasarana umum serta penataan lingkungan terus menerus demi menciptakan keindahan da kenyamanan.
Namun, dalam sisa dua pekan dimulainya helat AG 18, segenap bangsa Indonesia tentu berharap helat akbar ini agar berjalan lancar, dan tidak sampai memalukan. (NS)




