
TERJADI peristiwa heroik saat pengibaran Sang Merah Putih di Kab. Belu (NTT) Jumat 17 Agustus lalu. Ketika roda pengerek bendera macet saat pengibaran Sang Saka, pelajar SMP bernama Joni (13) dengan gagah berani memanjat tiang setinggi 23 meter itu tanpa ragu. Roda penghubung tali bendera itu dibetulkan, dan Joni kembali melorot. Upacara pengibaran Merah Putih pun berlangsung tanpa kendala. Hadirin mengaplaus keberanian si bocah. Apa target Joni? Hanya satu, bendera Merah Putih itu harus berkibar!
Berita keberanian Joni sempat viral di medsos. Ini tindakan yang membahayakan, bertaruh nyawa. Misalnya dia terpeleset jatuh, atau tiang itu roboh tak sanggup menerima beban tubuh Joni. Resikonya sama, bisa cidera berat, atau bisa juga malah wasalam. Tapi rupanya Joni tak berfikir sampai ke situ. Yang penting kendala atas tiang bendera bisa diatasi. Joni benar-benar anak langka.
Dan karena perilaku Joni yang heroik, Sabtu lalu Menpora Imam Nahrawi mengundangnya ke Jakarta. Penghargaan untuknya pun mengalir. Pengacara kondang nan tajir, Hotman Paris memberikan hadiah uang tunai Rp 50 juta, bisa untuk beli permen berikut tokonya. PLN Peduli juga menjanjikan bea siswa hingga sarjana S1. Jangan curiga, meski Joni ahli panjat-memanjat, takkan mungkin oleh PLN dia dipekerjakan di bagian panjat tiang karena gangguan listrik.
Joni pelajar kelas I SMP kelahiran 2004 ini nama lengkapnya: Yohanes Lau Gama. Sudah dua kali memenangkan juara panjat pinang HUT RI di kampungnya, dia juga sudah biasa disuruh emaknya untuk petik asem. Jadi sebetulnya, Joni jadi juara karena tak jauh dari pepatah: alah bisa karena biasa.
Tapi meski banyak bocah yang pintar panjat memanjat pohon, tak semua bernasib mujur sebagaimana Joni. Ada yang pekerjaannya memang dari bocah sampai tua jadi tukang panjat kelapa, tapi tak pernah dapat hadiah puluhan juta bahkan duduk bersama Menpora. Di Kec. Ngombol Purworejo selatan (Jateng) misalnya, ada sosok bernama Suro Sarto dari ABG sampai jadi orangtua tetap jadi pakar pemanjat kelapa, tapi tetap hidup miskin. Dia berhenti jadi pemanjat kelapa juga karena jatuh tewas saat panjat pohon kelapa.
Allah telah mengatur rejeki untuk setiap umat-Nya. Melalui keahlian memanjat, Joni berhasil mendongkrak peruntungannya lewat insiden kecil dalam peringatan HUT RI di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motain, Kabupaten Belu, NTT. Saat itu dia tidak enak badan, sehingga keluar dari barisan. Tiba-tiba ada pengumuman, siapa yang bisa memanjat untuk membetulkan kerekan bendera yang macet.
Spontan Joni lepas sepatu dan memanjat tiang bendera. Orang lain melihatnya dengan sejuta rasa ngeri, tapi dia biasa saja karena memang makanan sehari-hari. Ketika Joni turun kembali dan upacara HUT RI itu terlaksana tanpa kendala, sejak itu nasib pelajar SMP itu mendadak berubah.
Saat ditanya Menpora Imam Nahrawi, kenapa begitu berani panjat tiang setinggi itu? Joni sama sekali tak pernah berfikir mendapatkan pujian dan hadiah. Yang penting bendera Merah Putih itu segera bisa berkibar. Meski masih bocah, rasa nasionalisme sudah nampak demikian kental. Joni bercita-cita jadi tentara, karena ingin jaga negara. Dalam pesannya yang ditulis di meja Menpora, Joni mengatakan, “Anak Indonesia harus rajin belajar dan cinta tanah air.”
Bayangkan, jika semua anak Indonesia bersikap seperti Joni, Indonesia tak perlu bubar tahun berapapun. Dia begitu mencintai negaranya, dia begitu menghormati benderanya, Merah Putih. Sebab kini banyak manusia Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih untuh 17-an secara asal-asalan. Ada yang hanya disangkutkan ke cabang pohon kamboja, ada pula yang benderanya disangkutkan ke tiang garasi atau tiang burung perkutut. Ada pula tiang benderanya memakai bekas tongkat pel.
Bahkan paling kurang ajar, ada yang tak mau menghormati Merah Putih, sehingga pantang kibarkan Merah Putih di rumahnya. Ironis kan, dia hidup dan cari makan di Indonesia, tapi tak menghormati negara tempat dia berpijak. (Cantrik Mataram)




