SEBAGAI peraih medali perunggu Asian Gamas 2018 (bridge), Bambang Hartono (79) orang kaya Indonesia dapat bonus Rp 150 juta dari pemerintah. Publik pun heran, buat apa uang segitu buat dia. Bagi dia uang Rp 150 juta kan laksana upil, sementra bagi orang kecil jumlah itu sangat menggiurkan. Maklumlah, banyak orang ingin kaya tapi tidak kesampaian. Padahal sesungguhnya jadi orang kaya itu tidak enak.
Setiap tahun majalah Forbes mengumumkan dafkat orang terkaya di dunia. Sejumlah orang Indonesia masuk pula Eka Tjipta Wijaya, Chairul Tanjung, Bambang Hartono – Budi Hartono kakak beradik, termasuk Sandiaga Uno Cawapresnya Prabowo. Mereka ini orang-orang yang uangnya tidak berseri. Kalau mau, apa saja bisa dibelinya, sehingga orag Jawa mengistilahkannya: presasat ngelun jagad.
Orang kaya seperti Chairul Tanjung sendiri merasa heran, kok orang lain malah tahu berapa isi uang kantongnya, padahal dia sendiri tak pernah menghitungnya. Tapi begitukah sifat dasar manusia, selalu ingin tahu urusan orang lain. Karena itu pula profesi wartawan dibutuhkan, sebab hanya merekalah sosok manusia yang telaten ngorek-ngorek rahasia orang. Apa saja ditanyakan, sampai Presiden SBY dulu pernah berseloroh, “Wartawan itu ternyata bodo ya, habis tanya melulu.”
Orang kecil dan miskin memang suka membayangkan, seperti apa ya enaknya jadi orang kaya? Tak pernah mikir kontrakan rumah, tak pernah pusing biayai anak sekolah, tak perlu jadi anggota BPJS Kesehatan. Begitulah, semuuanya bisa tercukupi karena punya dana melimpah yang tak terhingga.
Pernahkah Anda mendengar kisah orang kaya di Betawi abad ke-19? Namanya Oey Tamba Sia, dia orang kaya hanya warisan orangtua, pengusaha jaman itu sekaligus “tuan tanah kedawung”. Sayangnya Oey Tamba Sia tak mampu mewarisi kekayaan orantua dengan arif. Justru uang dihambur-hamburkan, untuk main perempuan dan keroyalan lainnya. Saking kayanya dia, saat buang air saja dia peper (bersihkan kotoran) dengan lembaran uang kertas. Tapi akhirnya Oey Tamba Sia jadi benar-benar tambah sial karena dihukum gantung Belanda gara-gara bunuh pesaing bisnisnya.
Begitulah orang kaya. Meski hartanya berjibun seperti si Qorun, tetap saja manyun jika ada yang hendak menyaingi dan mengancam berkurangnya harta. Orang kaya yang tak beriman memang begitu. Orang miskin bertanya besok makan apa, dia justru bertanya, “Besuk makan siapa?” Ya, banyak orang bisa kaya raya karena mengorbankan orang lain, misalnya dengan cara korupsi harta Negara.
Kenapa orang kaya cenderung jadi pelit pada orang lain? Karena dia merasakan bagaimana susahnya cari uang ketika mulai dari nol. Maka pejabat yang bisa kaya karena jabatannya bisa lebih pelit karena terbiasa oleh sumpah jabatan. Lihat sumpahnya saat dilantik, “Tidak akan menerima dan memberi dalam bentuk apapun kepada siapapun”. Maka jangan heran, ada mantan menteri beberapa periode dibenci LSM karena susah dimintai sumbangan. “Masih jadi menteri saja pelit, apalagi setelah pension,” kata LSM proposalnya tak pernah dijawab.
Orang miskin selalu membayangkan orang kaya itu enak, padahal tidak begitu. Orang kaya itu justru pusing, bagaimana mengemudikan usahanya agar tidak bangkrut. Bagaimana tiap tahun harus bayar pajak. Sebab semakin banyak pajak yang harus dibayar, sebetulnya mereka makin merasa sayang. Maka dulu Menkeu Sri Mulyani pernah “rebut” dengan Menko Kesra Aburizal Bakrie gara-gara mbeler (males) bayar pajak perusahannya yang sampai triliunan. Bahkan namanya masuk Panama Paper juga karena menyelamatkan uangnya ke luar negri agar tidak kena pajak.
Maka paling enak justru jadi orang miskin, tak perlu mikir pajak, tak perlu mikir zakat. Paling nyaman adalah jadi orang hidup pas-pasan. Pengin beli rumah, pas ada duit. Pengin ganti mobil pas bonus keluar, mau kawin lagi pas ada cewek cantik mau diajak hidup melarat. Pas, kan? (Cantrik Metaram)





