Eskalasi Konflik Bisa Bergeser ke Afghanistan

ANGKARA murka seolah-olah tidak bisa terlepaskan dari Afghanistan sejak lebih tiga dekade terakhir sejak invasi Uni Soviet (Des.1979 – Feb. 1989), dilanjutkan dengan keterlibatan besar-besaran koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat pasca tragedi 11 September 2001.

Di bawah bayang-bayang Uni Soviet di belakang pemerintah demokrat Afghanistan untuk memerangi milisi al-Qaeda dan Mujahiddin saja sekitar satu juta penduduk Afghanistan terbunuh, lima juta atau sepertiga total penduduk mengungsi ke negara-negara tetangga atau menempatkan satu diantara dua pengungsi saat itu berasal dari Afghanistan.

Soviet menarik pasukannya di era Presiden Mikhail Gorbachev, 2 Februari ‘89 karena menganggap ongkos perang di wilayah itu yang disebut-sebut sebagai “Perang Vietnam ala Soviet” terlalu mahal. Sebanyak 14.500 anggota pasukannya tewas, 118 pesawat dan 333 helikopter rusak atau tertembak, 147 tank dan 1.324 kendaraan lapis baja rusak atau hancur.

Namun hengkangnya pasukan Soviet tidak serta-merta mengakhiri perang, karena nyatanya terus berlanjut, sampai masuknya kembali kekuatan asing di bawah AS sejak Oktober 2001, sebulan setelah penyerangan gedung WTC New York, 11 Sept. 2001.

AS bersama Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) seperti Inggeris, Perancis, Belanda, juga didukung Australia di bawah pasukan internasional (ISAF) menggelar 130.000 pasukan untuk menggulingkan rezim Taliban dan membantu 100.000 tentara Afghanistan yang kerepotan menghadapi kelompok radikal tersebut, juga untuk menangkap pimpinan al-Qaeda Osama bin Laden yang dituding sebagai otak penyerangan gedung WTC.

AS hingga kini masih menempatkan belasan ribu anggota pasukannya di Afghanistan, dan tahun 2018 saja rezim Presiden Donald Trump menggelontorkan dana 45 milyar dollar AS (atau sekitar Rp688 triliun) atau selama hampir 17 tahun keterlibatannya di negeri itu menghabiskan ratusan triliun dollar AS.

Selain itu, pasukan koalisi AS telah kehilangan 1.900 anggotanya, koalisinya pasukan pemerintah Afghanistan kehilangan 5.500 nyawa tentaranya, sedangkan lawan yang dibunuh antara 15.000 sampai 20.000 milisi Taliban dan 1.800 Al-Qaeda.

Kasus bom bonuh diri dengan sasaran gedung sekolah, kantor pemerintah, mesjid, garnizun atau pos-pos militer juga cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir ini dengan korban tewas sekitar 19.000 orang pada 2017 dan 20.000 orang pada 2018 hingga September.

Sejauh ini berbagai upaya damai untuk memediasi konflik Afghanistan berujung kegagalan karena penolakan Thaliban berunding dengan rezim petahana Afghanistan yang dianggap sebagai boneka AS.

Dengan kemungkinan segera berakhirnya konflik militer di Suriah jika koalisi rezim Bashar al-Assad, Iran dan Rusia berhasil merebut benteng terakhir milisi oposisi Suriah di Idlib, eskalasi konflik militer diprediksi akan bergeser ke Afghanistan.

Derita rakyat Afghanistan agaknya belum segera berakhir. (AFP/Reuters/NS)

Advertisement