JAKARTA, KBKNEWS.id — Dompet Dhuafa bergerak cepat merespons bencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu fokus utama pelayanan yakni ibu dan anak.
Penanganan darurat langsung dilakukan melalui mobilisasi relawan lintas wilayah dan distribusi bantuan logistik secara bertahap menuju titik-titik terdampak di daratan Flores.
Tim pertama relawan telah menempuh jalur darat dari Larantuka menuju Maumere sejak hari pertama bencana, Sabtu (15/8/2026).
Tiba di lokasi pada sore menjelang malam, tim langsung berkoordinasi dan membuka layanan pos hangat serta dapur umum bagi sekitar 1.600 pengungsi di Maumere, disusul pergerakan tim lanjutan dari Jakarta, Kupang, hingga Jawa Timur menggunakan jalur darat dan penerbangan langsung menuju Labuan Bajo.
Saat ini puluhan personel gabungan Disaster Management Center (DMC) dan tim respons telah tersebar di berbagai titik evakuasi. Sekitar 6 hingga 8 ton logistik di Ende disiapkan untuk digeser ke wilayah Nagekeo, sementara pasokan lainnya didistribusikan melalui jalur laut Labuan Bajo menuju Reo dan Ronting di pesisir utara Flores guna menembus area-area yang terisolasi.
“Meskipun sempat ada kekhawatiran terkait situasi distribusi di jalur darat, tim tetap berkomitmen menyalurkan bantuan secara tertib dan merata kepada penyintas di sepanjang rute perjalanan. Kami memastikan bantuan logistik pokok, dapur umum, hingga pos bantuan dapat segera menjangkau wilayah terdampak paling parah seperti Nagekeo dan Manggarai,” ujar Kepala DMC Dompet Dhuafa Shofa Qudus di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Selain kebutuhan pokok, perhatian besar difokuskan pada penanganan medis darurat bagi para korban reruntuhan. Tim kesehatan Dompet Dhuafa terus bergerak melakukan penanganan aktif di lapangan serta menyisir wilayah pengungsian yang minim fasilitas kesehatan.
“Hari pertama kami sudah mendirikan tenda layanan kesehatan darurat di desa terdampak. Banyak warga mengalami luka akibat tertimpa material bangunan, bahkan tim di lapangan sempat merujuk seorang ibu dan cucunya yang mengalami patah tulang terbuka. Kami terus berkoordinasi dengan Pusat Krisis Kemenkes dan dinas kesehatan setempat agar layanan, termasuk kesehatan reproduksi bagi ibu hamil dan balita, dapat berjalan maksimal lewat posko maupun tim medis mobile,” jelas dr. Yeni dari LKC Dompet Dhuafa.
Dampak gempa juga merusak sejumlah fasilitas program pemberdayaan kawasan Mandiri dan Berdaya (Madaya) Dompet Dhuafa di wilayah Ronting, Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur. Fasilitas peternakan DD Farm, kawasan pertanian, hingga bangunan masjid binaan yang sempat direnovasi pada 2018–2019 dilaporkan mengalami kerusakan dan roboh akibat guncangan gempa.
Menanggapi kerusakan tersebut, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini menyatakan pihaknya telah merancang program pemulihan pascabencana jangka panjang. “Kami menargetkan penghimpunan dana sebesar Rp30 miliar dalam tiga bulan ke depan. Sebanyak Rp10 miliar dialokasikan untuk kebutuhan darurat pangan, logistik harian, dan layanan kesehatan, sementara Rp20 miliar sisanya akan difokuskan untuk recovery infrastruktur masyarakat, mulai dari pembangunan kembali masjid yang roboh, fasilitas peternakan, sekolah, hingga sarana umum lainnya,” pungkas Ahmad Juwaini.





