Kucing Pun Diet Tikus

Coba, tikus-kucing jaman now, bisa sinergi makan bareng.

DIRUT BPJS-Kesehatan dr Fahmi Idris beberapa hari lalu bilang, lembaga yang dipimpinnya tekor melulu karena banyak diklaim penderita penyakit berat (katastropik). Dari sekian penyakit padat biaya, hanya untuk pengobatan sakit jantung saja BPJS Kesehatan habiskan dana sampai Rp 9,4 triliun di tahun 2018 ini. Tapi itulah resikonya bangsa jaman now yang menjelma jadi manusia karnivora (pemakan daging). Ketika hidup makmur, daging jadi menu sehari-hari. Tapi percayakah Anda, bahwa “kemakmuran” rakyat Indonesi ini berdampak pada kucing-kucing yang diet alis tidak lagi doyan tikus!

Sebelum tahun 1980-an, penyakit jantung darah tinggi hanya diderita pera pejabat tinggi negara. Gangguan jantung memang bisa menjadi salah satu penyebab seseorang meninggal mendadak. Pejabat tinggi negara banyak yang jadi korban seda ujug-ujug (meninggal mendadak). Maklumlah, mereka tengah mengemban tugas berat, sehingga sering mengalami stress tingkat tinggi.

Sejumlah petinggi negara meninggal mendadak di antaranya adalah: Menteri Kehakiman Saharjo 13 Nopember 1963, Menteri PDK Sumantri Brojonegoro 18 Desember 1973,  Menteri Dalam Negeri Basuki Rachmat 8 Januari 1969. Setelah tahun 1980, bisa disebut: Menteri PDK Nugroho Notosusanto, 3 Juni 1985, Jaksa Agung Sukarton Marmo Sudjono 29 Juni 1990.

Usia mereka baru sekitar 50 tahun. Tapi sekarang, usia di bawah 40 tahun pun sudah bisa kampiran penyakit jantungan dan darah tinggi. Padahal mereka hanya rakyat biasa, bukan pejabat tinggi negara, apa lagi menteri. Semua itu gara-gara pola makan. Jaman Orde Lama jarang ketemu daging, setelah Orde daging mudah didapat, mulailah masyarakat biasa bertumbangan gara-gara kolesterol tinggi.

Anak-anak tahun 1960-an, ketemu daging kambing atau sapi hanya ketika ada tetangga meninggal dan potong kambing atau kerbau. Atau juga ketika ada kambing atau kerbau sakit, lalu dipatung (dipotong) dagingnya dibagi pada para tetangga. Dulu di kampung-kampung jarang orang potong hewan kurban, karena kemampuan ekonomi rakyat masih terbatas.

Tapi setelah Orde Baru berkuasa, perekonomian mulai menggeliat. Rakyat mulai meraskan kemakumuran. Rakyat mulai banyak makan daging, baik itu sapi, kambing maupun ayam. Padahal daging itu banyak mengandung kolesterol. Bila dikonsumsi berlebihan bisa mengancam jantung dan terkena darah tinggi. Jangan heran, di kala musim potong hewan kurban, banyak orang terkena stroke.

Penyakit jantung, darah tinggi, termasuk penyakit padat biaya. Kalau orang kaya, bisa jadi makanan empuk rumah sakit komersil. Tapi jika orang miskin, lari ke BPJS Kesehatan. Ironisnya mereka baru masuk anggota ketika mengidap penyakit berat. Dua tiga kali bayar premi sudah klaim biaya pengobatan sampai ratusan juga.  Nah, gara-gara orang jantungan, BPJS harus mengeluarkan biaya sampai Rp 9,4 triliun dalam setahun.

Apakah pemerintah harus menyerukan jangan makan daging, jelas tidak mugkin. Justru para pejabat sering mengatakan, dari kecil harus banyak makan daging, karena itu bikin otak cerdas. Cerdas dalam arti positif lho ya! Kalau negatif sih, orang cerdas bisa belok ke banyak akal, sampai-sampi uang negara pun diakali (korupsi).

Setiap menjelang Lebaran atau Tahun Baru, pemerintah sering bilang, persedian daging aman. Daging kini sudah menjadi menu sehari-hari orang kebanyakan. Tahukah Anda dampak lainnya? Kucing saja sekarang sudah diet sama daging tikus. Lihat saja, kucing ketemu tikus diam saja. Dan tikus pun ketemu kucing juga santai saja, tak berusaha kabur duluan.

Kenapa bisa begitu? Karena kucing sekarang mulai realistis. Buat apa ngejar-ngejar tikus ke got dan pojok-pojok rumah, wong daging sisa juga banyak ditemukan di tempat sampah. Bahkan kucing piaraaan, setiap hari menunya pakai daging, paling tidak ikan cuwik. Maka ketika kucing  kehilangan semangat juangnya, tikus menjadi bebas merdeka, sehingga ada yang menjelma jadi tikus negara, cari makannya di DPR dan Pemda-Pemda. (Cantrik Metaram).

 

Advertisement