
INDONESIA di jaman now, ternyata rakyatnya masih ada yang percaya dana fiksi yang nilainya bertriliun-triliun. Beberapa tahun lalu harta karun fiksi yang dikenal sebagai Dana Revolusi pernah muncul, tapi dana yang katanya warisan Bung Karno itu kemudian wasalam begitu saja. Kini muncul dana fiksi 7 turunan raja-raja Nusantara senilai Rp 23 triliun. Ironisnya, aktivis sekelas Ratna Sarumpaet kok begitu yakin keberadaan dana tersebut, dan meyakini pula dana itu sedang “diamankan” pemerintah.
Ternyata banyak manusia Indonesia yang ingin hidup enak secara mudah. Tahun 1980-an pernah heboh marmer tembus pandang yang harganya miliaran. Orang-orang yang meyakininya, rela mengorbankan uang dan keluarganya untuk sekedar mencari marmes tembus pandang itu. Tapi sampai keluarga berantakan, tak pernah juga ditemukan marmer semacam itu. Marmer Tulungagung, marmer Lampung dan marmer Citatah Bandung, semuanya ternyata mentok pandang!
Entah siapa gerangan yang melempar isyu, sampai sekarang tak pernah terungkap. Tarus tahun 2000-an gantian muncul isyu pohon Antarium atau Gelombang Cinta yang harganya sampai ratusan juta. Orangpun banyak menginvestasikan uangnya. Bahkan ada keluarga yang berantem gara-gara pohon yang begitu mahal malah dikasih makan untuk kambing. Dan sekarang, pohon Antarium itu sudah tak ada harganya, bahkan kambing pun sudah gebes-gebes tidak mau.
Kini muncul isyu harta karun 7 Raja Nusantara senilai Rp 23 triliun. Seorang warga bernama Ruben PS Marey mendatangi “Crisis Centre” Ratna Sarumpaet mengadu bahwa uang miliknya sebanyak Rp 23 triliun raib dari rekeningnya. Padahal uang itu sedianya untuk membatu rakyat Papua. Dikirim dari bank di Swiss, ke 3 bank Indonesia, yakni BNI, BCA, dan Mandiri.
Ironisnya, nenek aktivis ini percaya begitu saja bahwa dana itu diblokir atau diambil pemerintah. Begitu yakinnya, Ratna cek ke Bank Dunia bahkan bank sentral AS, The Fed. Semuanya membenarkan telah ditransver ke RI. Karena Menkeu Sri Mulyani juga mantan Direktur Bank Dunia, Ratna pun menanyakan ke sana.
Kata Ratna Sarumpaet, Ruben SP Marey adalah salah satu dari 7 keturunan Raja-Raja Nusantara. Sengaja dia hanya munculkan satu nama, tapi anehnya siapa dia dan di mana berada, juga tak pernah dimunculkan. Jika tanya bukti, buktinya semua ada di DPR Komisi XI. Mbulet kan? Nama Ruben SP begitu asing. Kaum emak-emak pecinta TV justru lebih kenal si Ruben Onsu artis/MC di TV.
Menkeu Sri Mulyani sendiri tak mau menanggapi atas isyu-isyu murahan tersebut. Tapi kata Humas Kemenkeu yang sudah kontak ke World Bank, lembaganya tak pernah mengurusi begituan. DPR Komisi XI juga tak pernah ada RDP (Rapat Dengar Pendapat) untuk melayani pengaduan Ratna Sarumpaet.
Sebagai aktivis yang selalu mengkritisi pemerintah, dengan data sumir itu kok bisa-bisanya menuduh uang itu diambil pemerintah. Padahal jika uang itu ada, pasti terdeteksi di PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan). Tapi melihat usia Ratna Sarumpaet yang sudah 70 tahun, bisa dimaklumi bahwa pikirannya sudah tidak jernih lagi jika tak mau disebut pikun.
Bebera tahun juga banyak orang terkecoh sebagaimana Ratna Sarumpaet itu. Kala itu muncul isyu harta karun Dana Revolusi yang merupakan warisan Bung Karno. Maka seorang pensiunan PNS tinggal di Ciracas, ikut pula terkecoh. Kini uang pensiunannya nyaris habis untuk mencicil pinjaman BRI.
Kala itu dia pinjam Rp 30 juta katanya untuk mengurus “Dana Revolusi”. Nantinya uang itu akan dikembalikan berlipat-lipat oleh Paduka, sisanya lebih dari cukup untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Bahkan kata pensiunan PNS itu, hari-hari tertentu paduka datang ke rumahnya. Dia yakin Paduka yang tak lain Bung Karno itu masih hidup.
Penulis sendiri pernah dibujuk untuk ikut berinvestasi, langsung menolaknya. Ditunjukkan gambar seorang lelaki, yang katanya itu penampilan Bung Karno sekarang. Dalam buku-buku lama pun tak ada gambar Bung Karno seperti itu, sama sekali tak ada miripnya itu gambar. Lagi pula, ngapain Bung Karno ke Ciracas segala, punya kapasitas apa sampai harus menemui secara khusus. Anggota kabinet 100 menteri bukan, arsitek Poros Jakarta-Peking juga bukan.
Sampai dirinya sakit-sakitan di usia senja, Dana Revolusi itu tak kunjung cair. Tapi dia sepertinya sudah melupakan dana tersebut, dan mengikhlaskan uangnya yang raib ditipu orang-orang berkedok Dana Revolusi. Heboh Dana Revolusi itu sendiri kini sudah hilang ditelan dinamika jaman now. (Cantrik Metaram)




