ISRAEL sangat mencemaskan kehadiran sistem rudal pertahanan udara S-300 buatan Rusia yang digelar di wilayah Suriah, karena bakal mengancam pesawat-pesawat tempurnya yang selama ini leluasa menyerang negara itu dan juga pasukan Iran serta milisi Hezbollah yang digelar disana.
Bagi Rusia sendiri, insiden jatuhnya pesawat intai IL-20M miliknya bersama 15 awak pada 17 September lalu dijadikan alasan yang kuat untuk mengamankan kepentingan dan kehadiran militernya untuk mendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Rusia menuduh Israel bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat intai IL-20M miliknya di atas lepas pantai Suriah bersama 15 awaknya akibat rudal pertahanan udara Suriah S-200 di atas lepas pantai Suriah (17/9) lalu.
Menurut Jubir Militer Rusia Igor Konashenkov, pilot-pilot pesawat tempur Israel yang sedang melancarkan serangan udara di atas wilayah Suriah sengaja memanfaatkan pesawat naas Rusia itu sebagai tameng. Rudal-rudal S-200 buatan Rusia mengejar pesawat Il-20M yang di layar radar lebih besar pantulannya ketimbang pesawat-pesawat tempur Israel.
Sistem rudal S-200 yang mampu menjangkau sasaran bergerak pada jarak 150 km digunakan oleh empat negara di Timur Tengah yakni Aljazair, Iran, Libya dan Suriah, sedangkan S-300 yang berjarak jangkau menyasar pesawat atau rudal lawan dari jarak 250 Km sejauh ini baru digunakan Iran.
Dengan sistem S-300, Suriah bakal lebih mampu mengamankan koridor udara di atas wilayahnya dan juga melindungi satuan-satuan Iran bersama milis Hezbollah yang ditempatkan di sana dari incaran pesawat-pesawat tempur Israel yang selama ini leluasa menyerang mereka.
Israel sejak 2011 telah melancarkan lebih seratus kali serangan udara ke berbagai sasaran di Suriah termasuk ke posisi satuan Iran dan milis Hezbollah yang digelar di negeri itu tanpa kehilangan satu pesawat pun, apalagi saat ini AU negara Yahudi itu menggunakan pesawat-pesawat tempur terbaru generasi ke-lima F-35 Lightning II buatan AS.
Opsi paling ideal bagi Israel terkait penempatan S-300 di Suriah yakni membuat kesepakatan dengan Rusia, dimana Israel harus membatasi pengoperasian pesawat-pesawat tempurnya di atas Suriah, sebaliknya Suriah harus mengatur penggunaan S-300. Melalui kesepakatan tersebut, kerjasama antara Israel dan Rusia bakal tetap berjalan dan potensi risiko kerugian bagi ketiga pihak juga bisa ditekan.
Opsi lainnya, bisa saja Israel nekad melancarkan operasi komando seperti dilakukan untuk merampas sistem radar Mesir di wilayah Terusan Suez yang baru diterima dari Rusia pada l969.Sebelumnya, radar tersebut efektif menuntut pertahanan udara Mesir untuk menjatuhkan 15 pesawat-pesawat tempur F-5 Tiger buatan AS milik Israel.
Opsi ketiga dengan melakukan serangan udara terhadap situs-situs S-300 seperti pernah dilancarkan Israel untuk menghancurkan posisi rudal darat ke udara Suriah SA-5 yang digelar di Lembah Bekaa, Lebanon pada 1982.
Saat itu Israel memancing rudal-rudal Suriah dengan drone untuk mengetahui posisi peluncur rudal, kemudian menghancurkannya dengan pemboman dan serangan udara. Opsi ini mungkin akan menjadi pilihan lagi, mengingat Israel juga memiliki pesawat-pesawat tempur F-35 yang berkemampuan siluman.
Persoalannya, kekalahan pihak yang dibantu, tentu juga taruhan bagi kekuatan yang mendukungnya yakni AS yang selalu berada di belakang Israel, sebaliknya Rusia, pelindung utama rezim Bashar al-Assad.
Namun jika sarang S-300 Suriah berhasil dihancurkan Israel, kemana muka Rusia akan ditaruh? Tentu Rusia bakal mengirim yang lebih canggih lagi, S-400 atau malah S-500 yang sedang diproses, sedangkan AS pun tidak bakal tinggal diam untuk mengirim pesawat tempur lebih canggih lagi. Seterusnya berbalasan.
Jika begitu, kapan konflik akan usai? (AP/Reuters/NS)





