ANKARA – Turki dan Belanda sedang berupaya mengakhiri ketegangan diplomatik, dimana bulan lalu keduanya sudah mulai menempatkan dduta besar di masing-masing negara.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan ketegangan akan diakhiri setelah masa-masa dimana kebijakan Belanda digambarkan sebagai “peninggalan Nazi,” sudah berlalu, sebagaimana dilaporkan AP.
Ketegangan keduanya dipicu oleh keputusan Belanda melarang para politisi Turki berkampanye di Belanda menjelang referendum 2017 di Turki, yang bertujuan memperbesar kekuasaan Presiden Turki.
Waktu itu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggunakan istilah “peninggalan Nazi” saat mengkritik Belanda.
Cavusoglu menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menuduh orang Belanda sebagai ‘Nazi’. “Sebagaimana sudah kami sepakati, istilah itu sudah berlalu,” katanya





