
SIKAP kenegarawanan yang ditunjukkan PM Mahathir Muhammad dan bekas seterunya, Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim yang tampil sepanggung lagi dan saling sanjung pada kampanye pemilu sela Malaysia yang akan digelar, Sabtu (13/10) patut ditiru.
Kedua tokoh tersebut, bersama-sama hadir dalam kampanye terbuka yang diselenggaarakan di Port Dickson, Negeri Sembilan, Senin malam (9/10).
Dengan tandas Mahathir yang menginjak usia 93 tahun menyatakan akan berkerjasama memenangkan Anwar Ibrahim, dan tekadnya itu bukan untuk (kekuasaan mereka berdua-red) , tetapi demi kejayaan Malaysia.
Sebaliknya Anwar (71) juga memuji Mahathir sebagai sosok negarawan yang terus berupaya menyelamatkan Malaysia di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit dan berjanji, jika memenangkan pemilu sela nanti, akan fokus pada reformasi parlemen dan berjanji tidak akan merecoki pemerintah Mahathir.
Anwar menilai, dengan segala kerendahan hati, dalam kondisi sekarang ini, lebih baik Mahathir yang memimpin Malaysia, dan menganggap Mahathir sebagai pemimpin dan juga ayahnya sendiri.
“Dulu saya pernah berseberangan dengan dia, tapi sekarang saya menganggapnya sebagai tokoh terbaik untuk memimpin Malaysia, “ kata Anwar.
Anwar sendiri mencalonkan diri setelah salah seorang anggota Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpinannya, Danyal Balagopal mengundurkan diri, sehingga sesuai peraturan yang berlaku di Malaysia, kursi kosong di parlemen harus segera diisi. Walau harus bertarung dengan enam calon lain, diperkirakan Anwar bakal menang mudah untuk kembali ke parlemen.
Kehadiran Mahathir di tengah kampanye Anwar di mata panggung politik Malaysia memberikan signal kuat bahwa perseteruan lama diantara kedua tokoh itu benar-benar telah terkubur dan anggapan bahwa mereka berdua tidak bakal bisa melakukan rekonsiliasi paling tidak hingga 2016 terpatahkan.
Perseteruan antara Mahathir dan Anwar berlangsung pada periode 1998 – 2016 walau Anwar masih diberikan posisi cukup tinggi sebagai wakil PM dan digadang-gadang akan dijadikan PM pengganti Mahathir. Hubungan buruk keduanya memuncak saat rezim Mahathir memenjarakan Anwar selama tujuh tahun dan ia menyatakan, musuhnya itu tidak akan pernah menjadi PM.
Namun kemudian, tanpa diduga publik, keduanya membentuk koalisi Pakatan Harapan (PH) yang ikut dalam kontestasi di Pemilu 2018 yang digelar Mei lalu dan keluar sebagai pemenang dengan mengalahkan Barisan Nasional (BN) yang berkuasa sejak berdirinya Malaysia.
Anwar belum bisa ikut dalam Pemilu 2018 karena ia masih berstatus napi dan baru kemudian Mahathir mengajukan pengampunan pada Kepala Negara Malaysia Yang Dipertuan Agung XV Sultan Muhammad V.
Sikap ngarawan yang ditunjukkan kedua tokoh negara jiran itu patut ditiru oleh calon pemimpin dan politisi di negeri ini yang akan bertarung dalam Pemilu Legislatif dan Pilpres serentak yang akan digelar 17 April 2019.
Kampanye hitam menggunakan ungkapan kebencian dan hoaks, menghasut dan memainkan isu SARA, apalagi sampai memainkan taktik “playing fictim” berupa “korban kekerasan bohong-bohongan” seperti terjadi dalam kasus “operasi plastik” Ratna Sarumpaet selayaknya dijauhi.
Tampilkan ide dan gagasan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang disegani serta menciptakan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat, sebaliknya, apalah artinya kemenangan dengan mengaduk-aduk emosi rakyat yang pada giliranya, cepat atau lambat, akan membawa bangsa dan negara di ambang kebangkrutan.




