Raibnya Khashoggi Masih Misteri

Warga Turki berunjuk rasa di depan konsulat Turki di Istanbul, menanyakan nasib wartawan Saudi Jamal Khashoggi yang raib setelah memasuki gedung tersebut.

RAIBNYA wartawan senior The Washington Post (WP), Ahmad Khashoggi (59) di Konsulat Arab Saudi, Istanbul, 2 Oktober lalu masih menjadi misteri, sementara pemerintah Saudi menolak semua tudingan berkonspirasi melenyapkannya.

Otoritas Saudi merasa disudutkan terkait adanya sinyalemen, tim algojo yang didatangkan dari Riyadh telah membantai dan memutilasi wartawan yang dianggap sebagai pembangkang itu.

Otoritas Saudi juga menyebutkan, isu pembunuhan berencana terhadap Khashoggi sebagai kebohongan.

Khashoggi dikenal sebagai pengritik Pangeran Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) yang hengkang ke Amerika Serikat pasca penobatan MBS sebagai putera mahkota, Juni 2017 setelah menyingkirkan sepupunya, Pangeran Mohammed bin Nayef.

Dalam artikel-artikelnya, ia sering mengecam intervensi militer Saudi dalam konflik Yaman, pengucilan Qatar serta memburuknya hubungan negara itu dengan Jerman dan Kanada terkait persoalan HAM dan dengan Iran akibat perebutan hegemoni kawasan.

Aksi penangkapan terhadap ulama, akademisi dan aktivitas politik yang berseberangan dengan MBS juga menjadi bahan kritikan yang dilontarkan Khashoggi melalui atikel-artikel yang ditulisnya di koran WP.

Teka-teki tentang nasib Khashoggi, berawal saat ia, Selasa siang (2/10) waktu Istanbul menyambangi kantor konsulat Saudi untuk mengurus surat cerai dengan isterinya yang diperlukan bagi pembuatan surat nikah dengan kekasihnya, pemudi berkewarganegaraan Turki, Hatice (36).

Hatice menunggu di luar Konsulat Saudi karena ia dilarang ikut masuk , dan sebelum berpisah, agaknya Khashoggi yang sudah berfirasat buruk, menyerahkan HP-nya pada kekasihnya itu dan berpesan agar segera menghubungi polisi jika terjadi sesuatu terhadapnya.

Berdasar pengakuan Hatice, kekasihnya tidak muncul lagi setelah ia berjam-jam mennggu sehingga ia melaporkan pada polisi Turki yang segera mengepung gedung tersebut. Otoritas Saudi berkilah, Khashoggi sudah meninggalkan gedung, jadi bukan tanggungjawab mereka lagi jika terjadi sesuatu atas dirinya.

Misteri raibnya Khashoggi menuai kecaman, selain dari Turki yang menjadi lokus kejadian, juga dari AS yang merupakan mitra utama Arab Saudi, bahkan Menlu AS Mike Pompeo menyatakan sudah mengetahui kasus tersebut.

Sejumlah lembaga pers internasional termasuk Press Institute Vienna yang menyurati langsung
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud untuk mendesak pembebasan wartawan tersebut.

Hilangnya Khashoggi juga direspons oleh Amnesty Internasional (AI) yang menyebutkan, jika ia benar-benar dihabisi, kondisi tersebut sangat membahayakan korp press Arab Saudi, termasuk yang berada di luar negeri.

Dibantai di Konsulat?
Investigator Turki percaya bahwa Khashoggi telah dibunuh di dalam kantor konsulat. Sebelumnya, sumber pemerintah Turki dan AS mengklaim memiliki rekaman audio dan video yang menguatkan dugaan bahwa ia disiksa, dibunuh dan dimutilasi tim algojo Saudi.

Para demonstran beraksi di depan kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, menuntut keberadaan Khashoggi, sementara pejabat AS dan Turki menyatakan, mereka memiliki rekaman audio dan video yang menguatkan dugaan bahwa Khashoggi dibunuh dan dimutilasi tim algojo Riyadh.

Jurnalis memang bukan profesi aman, mengingat selama 2017 saja tercatat 65 wartawan tewas terkait dengan kegiatan jurnalistik, yang paling banyak di Suriah (12 orang), Meksiko (11) dan Afghanistan (9).

Selain itu pada tahun yang sama, 326 wartawan di berbagai penjuru dunia ditahan oleh penguasa setempat akibat tulisannya , terbanyak di China (52), disusul Turki (43), Suriah (24) dan Irak (23), sedangkan 54 lainya disandera di berbagai negara dan dua hilang.

Pekan lalu (6/10), jasad wartawati Viktoria Marinova ditemukan di taman kota Rousse, Bulgaria utara dengan bekas cekikan dan perkosaan di tubuh wanita berusia 30 tahun tersebut, sementara polisi Jerman menyatakan telah berhasil mencokok pelakunya, pria berkebangsaan Bulgaria, Severin K (21) di utara kota Hamburg (10/10).

Pembunuhan terhadap Marinova agaknya tidak berkaitan dengan profesinya sebagai wartawati, tetapi kasus kriminalitas biasa.

Pembunuhan terhadap wartawan hanya bisa sementara menunda terungkapnya kebenaran, tetapi tidak bisa menutupi untuk selamanya.

Kebenaran justeru baru terungkap saat sang wartawan telah meninggalkan raganya.

Advertisement