
RAIBNYA wartawan senior the Washington Post Jamal Khashoggi sampai kini masih diselimuti kabut misteri, tetapi tekanan internasional terhadap pemerintah Arab Saudi untuk jujur, terbuka dan segera mengungkapnya datang bertubi-tubi.
Kerugian berupa sirnanya peluang investasi mulai mengancam Saudi, sejak pemberitaan terkait hilangnya Khashoggi (59) yang juga berasal dari Saudi, setelah berada di gedung konsulat negara itu di Istanbul (2/10) tersebar di berbagai media di seluruh jagat.
Pengusaha Inggeris pendiri Virgin Grup, Richard Branson yang sedianya akan berpartisipasi dalam pengembangan proyek pariwisata bernilai milyaran dollar AS di Saudi kabarnya membatalkan rencananya.
Sementara itu, forum ekonomi global, Future Investment Initiative (FII) yang akan digelar di Riyadh 23 – 25 Oktober juga dikhawatirkan terkena imbasnya, padahal pertemuan yang bakal dihadiri pebisnis global diharapkan akan mampu menarik investasi besar-besaran ke negara itu.
Khashoggi yang melalui tulisan-tulisan tajam mengritik perilaku dan kebijakan rezim petahana di bawah Pangeran Mohammed bin Salman dan pendahulunya diduga sejumlah pihak telah dihabisi dan sejumlah bukti yang menguatkan keterlibatan pemerintah Saudi terus bermunculan.
Sumber-sumber Turki dan AS mengakui, memiliki rekaman video yang mendukung bukti , Khashoggi disiksa, dihabisi dan dimutilasi di dalam gedung konsulat Saudi oleh belasan algojo yang didatangkan langsung dari Riyadh.
Nama-nama ke-15 warga Saudi yang tiba di Istanbul, kemudian kembali pada hari yang sama saat hilangnya Khashoggi saat ia menyambangi konsulat tersebut untuk mengurus surat pernikahannya dengan perempuan Turki bernama Hatice juga sudah dikantongi oleh aparat setempat.
AS juga tekan Saudi
Amerika Serikat, mitra utama ekonomi dan juga negara yang menggelontorkan
persenjataan mutakhir untuk memperkuat militer Saudi, mengancam akan mengambil langkah tegas jika negara itu terbukti melakukan konspirasi dalam pembunuhan Khashoggi.
“Kami akan menemukan kebenaran dalam kasus ini dan bakal ada sanksi hukuman keras, “ kata Presiden AS Donald Trump pada wawancara dengan TV CBS (11/10), seraya menambahkan: “Hingga kini mereka (Saudi) membantah keras. Apa mungkin mereka pelakunya? Bisa saja “
Namun, beberapa pengamat meragukan apakah Trump berani mengambil risiko untuk bersikap keras terhadap Arab Saudi atau hanya sebatas gertakan untuk mencitrakan pada rakyatnya dan juga dunia bahwa ia lebih mementingkan penegakan HAM ketimbang keuntungan bisnis.
Dari bisnis persenjataan saja, AS bakal kehilangan 110 milyar dollar AS jika dibatalkan gara-gara kasus Khashoggi.
Otoritas Turki juga meyakini, Khashoggi di bunuh di gedung konsulat dan menurut laporan harian pro pemerintah “Sabah” (13/10), tim investigasi menemukan rekaman jam tangan Apple milik korban yang terkirim ke ponsel Iphone yang dititipkan kepada kekasihnya sebelum ia memasuki gedung konsulat.
Berdasarkan penuturan Hatice, Khashoggi menitipkan ponselnya dan berpesan agar ia menghubungi polisi jika terjadi sesuatu atas dirinya. Hatice tidak ikut masuk, hanya menunggu di luar gedung, karena menurut dia, tidak diizinkan oleh petugas konsulat.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, lambat laun akan tercium juga. Entah siapa pelakunya, orang hanya menduga-duga sampai suatu saat nanti. (AP/AFP/Reuters/NS)




