BANDUNG – Ahli dan peneliti longsor dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Adrin Tohari, mengatakan ada lima jenis longsor yang kerap terjadi saat musim hujan dan gempa kuat.
Adrin menjelaskan secara rinci kelima jenis longsor itu yakni ada tiga yang terkait musim hujan diantaranya tipe rayapan, luncuran, aliran yang berpotensi terjadi saat musim hujan.
Sementara jenis longsor yang berpotensi terkait gempa kuat yakni runtuhan dan gulingan.
Menurutnya, tipe longsoran rayapan terlihat dalam kasus teranyar seperti di Kampung Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Cirinya, selain menimbulkan retakan seperti di jalan atau tanah hingga tembok rumah, longsor rayapan punya riwayat atau sejarahnya.
“Kalau gerakan tanah tipe rayapan suka terjadi perulangan,” ujarnya, dilansir Tempo.co, Kamis (18/10/2018).
Warga mungkin tidak ada yang tahu soal cerita longsor atau gerakan tanah rayapan di wilayahnya, dan menganggap atau baru tahu kejadiannya sekarang.
Menurut Adrin, gerakan jenis rayapan ini berlangsung lambat dan dipastikan sebelumnya telah terjadi. “Bisa tanya ke sesepuh, atau tanda retakan di dinding rumah yang lama ada di sana,” katanya.
Jenis longsor lain yaitu luncuran. Dibandingkan dengan tipe rayapan, pergerakan tanahnya lebih cepat. Lokasinya berada di bidang lereng tebing atau mahkota.
Jenis ketiga yaitu tipe aliran yang terjadi karena tanah telah jenuh air. “Seperti terjadi di Pasaman, Mandailing Natal, sumber longsorannya jauh dan membawa batu-batu, material lain seperti pohon,” kata Adrin.
Jenis longsor yang terkait dengan guncangan gempa kuat yaitu tipe runtuhan. Abrasi laut bisa punya andil dalam meruntuhkan batuan tebing. Biasanya ujar Adrin, lokasinya berada di lereng batu. Adapun jenis longsoran gulingan, juga meluncurkan batu-batu.





