Iran (Sementara) Bisa Bernafas Lega

Para pemimpin Iran yakin akan mampu mengatasi sanksi eonomi yang dikenakan AS karena tidak didukung Eropa dan beberapa negara lain minta pengecualian

KEPASTIAN sejumlah negara Eropa untuk tetap menjalin kerjasama ekonomi dengan Iran – tidak mengikuti sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat yang menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 – paling tidak bisa menyelamatkan perekonomian negara di Teluk Persia itu untuk sementara.

AS, China, Jerman, Inggeris, Rusia dan Perancis semula membuat kesepakatan nuklir dengan Iran (JCPOA) pada 2015 memuat pengurangan sanksi ekonomi secara bertahap sebagai imbalan kesediaan Iran untuk menghentikan program pengayaan uranium yang bisa dikembangkan untuk senjata nuklir.

AS secara sepihak mengundurkan diri dari kesepakatan itu karena Presiden Donald Trump menganggap Iran bersikap tidak transparan, dan menjatuhkan 300 jenis sanksi baru di sektor perminyakan, perkapalan dan keuangan.

Presiden Trump juga melarang transaksi antara institusi Iran dengan para pihak di negara lain. Pihak lain yang bertransaksi dengan Iran juga bakal dikenakan sanksi kecuali beberapa negara yang diberikan pengecualian.

Korea Selatan yang mendapatkan pengecualian sanksi AS tetap dapat mengimpor kondensat dari Iran yang sangat dibutuhkan industri petrokimia di negeri itu, sementara Jepang, China dan Turki mash menanti keringanan dari AS.

Paling tidak, sekutu AS di Eropa, Jerman memastikan para pengusahanya memiliki landasan hukum yang kuat untuk tetap melanjutkan kerkasama dengan Iran.

“Kami sedang mencari cara untuk melindungi bisnis kami disana, “ ujar Jubir Pemerintah Jerman Steffen Seibert.

Inggeris menyesalkan pemberlakukan kembali sanksi AS terhadap Iran dengan alasan kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015 itu akan membuat dunia lebih aman sepanjang Iran membatasi aktivitasnya sesuai kesepakatan.

Presiden Hassan Rouhani semakin percaya diri dan meyakinkan rakyatnya bahwa Iran akan mampu mengatasi sanksi yang dikenakan AS karena tidak didukung oleh sejumlah negara-negara di Eropa, bhkan Jepang, China dan Turki meminta pengecualian.

“Kita dalam keadaan perang melawan musuh-musuh yang melecehkan kita. Kita pasti menang, “ ujar Rouhani.

Namun dibalik sikap percaya diri para pemimpinnya, faktanya ekonomi Iran juga berada dalam tekanan tercermin dari anjloknya nilai tukar Riyal Iran dari 40.000 per satu dollar AS tahun lalu menjadi menjadi 150.000 saat ini.

Sebanyak 25 orang tewas dalam aksi unjuk rasa diberbagai kota di Iran akhir-akhir ini akibat memburuknya kondisi ekonomi negara itu.

Dalam jangka pendek, penolakan sejumlah negara Eropa dan permintaan pengecualian beberapa dri sanksi AS mungkin bisa menahan keterpurukan ekonomi Iran, namun entah dalam jangka panjang. (AFP/Reuters/ns)

Advertisement