Gendruwo Bikin Takut

Gendruwo dipercaya sebagai petualang seks, hobinya ganggu bini orang.

ORANG Jawa, meski ber-“tampang priyayi” sekalipun, sangat akrab dengan istilah gendruwo. Sejak kecil orang Jawa telah mendengar kata-kata itu baik dari orangtuanya atau kakek neneknya. Kala itu sekedar untuk menakut-nakuti anak. Nah, Presiden Jokowi yang berasal dari Solo, rupanya juga sudah termakan gosip kalangan kakek-nenek. Karenanya ketika melihat orang berpolitik dengan menakut-nakuti rakyat, dia menyebutkan sebagai: politik gendruwo!

Anak Jawa yang tinggal di desa, dalam arti Jateng-Jatim-DIY, sejak kecil sering ditakuti orangtuanya termasuk kakek-nenek. “Bengi-bengi aja klayaban, digondol gendruwo kapok (malam hari jangan main melulu, dibawa gendruwo tahu rasa)” begitu kata para orangtua. Maksudnya sebenarnya sekedar untuk menakut-nakuti. Maklum, di pedesaan jaman itu belum ada listrik, jalanan gelap. Takutnya di jalan ketemu eres-eres (baca: ular). Makanya, ketimbang kelayapan tanpa juntrung lebih baik belajar, kerjakan PR dari Pak Guru.

Anak jaman milenial sekarang, gendruwo bukan lagi makluk menakutkan. Dalam bentuk makanan, bakso gendruwo yang ukuran baksonya segede endhas maling, justru disenanginya. Lihat saja di segenap penjuru kota, warung bakso banyak didatangi anak muda. Bahkan jenis makanan berbau hantu, kini diburu kawula muda. Selain bakso gendruwo, ada rawon setan, es pocong. Mungkin nanti ada juga kopi susu kuntilanak. Untung saja kalangan lelembut (makhluk halus) ini tidak minta royalti meski namanya dicatut untuk merk dagang.

Kata kakek nenek orang Jawa, gendruwo itu bentuknya menakutkan. Dua bola matanya besar-besar, giginya seperti wadung pembelah kayu, jari-jemarinya segede pisang ambon, perutnya seperti bedug Purworejo. Alisnya, bukan lagi nanggal sepisan (bulan tanggal muda), tapi hampir 50 kali Leonid Bresnev Presiden Uni Soviet. Makhluk gendruwo tinggal di pohon-pohon besar. Bahkan versi orang Betawi, gendruwo suka tinggal di pohon kapuk randu, bukan di Rusun ber-DP nol rupiah.

Tapi awas, sebagaimana manusia, gendruwo juga memiliki nafsu, termasuk akan perempuan. Tapi uniknya, dia tidak berselera pada makhluk sebangsa dan setanah airnya, sama-sama kaum gendruwo jenis gendruwati. Mungkin jenuh dengan golongan sendiri, gendruwo lalu mencari makhluk dari dunia lain, yakni kaum manusia.

Itupun gendruwo sangat selektif, tidak asal comot. Biar cantik jika masih gadis sama sekali tidak tertarik. Yang diincar justru kaum hawa yang sudah bersuami. Usia 25-30 kalau ada. Tapi jika kepepet, kalangan emak-emak juga tak masalah. Mengapa gendruwo anti keperawanan? Mungkin gendruwo golongan makhluk pemalas, ogah kerja barang sedikit. Dia memilih jadi generasi penerus saja.

Banyak kisah dari dunia misteri, atau alaming lelembut yang bertebaran dimuat di majalah berbahasa Jawa di Yogyakarta dan Surabaya, kisah tentang gendruwo yang jadi subita (suka bini tetangga). Dia menyamar sebagai suami perempuan cantik yang diincarnya. Persis dalam segala hal, baik bodi maupun mesinnya. Maka ketika gendruwo yang nyamar jadi suami itu minta “dilayani”, ya dilayani sampai tuntas tass! Tapi ketika suami asli pulang, skor sudah kadung 2-0.

Dalam ketoprak Metaram dari RRI Yogyakarta, pernah pula dipentaskan lakon “Bremana-Bremani”. Ini juga kisah tentang gendruwo yang menyusup jadi manusia, menggauli Bremani istri Bremana. Konflik terjadi ketika Bremana aspal itu  mengaku sebagai Bremana asli, yang masih buntelan plastik. Persoalan ini kemudian ditengahi oleh sang raja. “Bremana yang asli harus bisa masuk dalam kendhaga (bejana dari logam) ini. Yang tidak bisa masuk berarti palsu.” Kata sang raja.

Bremana yang aslinya dari gendruwo, tentu saja senang sekali. Masuk ke dalam bejana sih, itu makanan gua sehari-hari. Tapi begitu dia masuk ke dalam kendhaga, langsung ditutup hingga tak bisa keluar. Lalu sabda Sang Prabu, “Bremana yang asli adalah ya kamu itu.” Bremana pun menghaturkan sembah, karena Bremani istrinya tak jadi digondol gendruwo. (Cantrik Metaram)

 

         

 

 

 

 

 

Advertisement