DIAM-DIAM dan nyaris sepi dari hingar-bingar liputan media, rezim penguasa Yahudi PM Israel Benyamin Netanyahu ternyata aktif melancarkan kampanye diplomatik dengan sejumlah negara Arab Teluk yang kaya-raya bergelimang minyak.
Netanyahu dilaporkan baru saja melawat ke Muscat, ibukota Oman (25/10) dan bertemu dengan Sultan Qaboos bin Said (78) yang berkuasa sejak 1970 di negera kesultanan berpenduduk sekitar 4,3 juta dengan PDB sekitar 77,7 milyar dollar AS dan pendapatan per kapita 19 ribu dollar AS itu.
Sebelum kedatangan Netanyahu, sejumlah pejabat tinggi Israel juga berdatangan ke Kesultanan Oman termasuk Menteri Transportasi dan Intelijen Israel Katz pada 7 November lalu, mencerminkan tingginya intensitas kegiatan para petinggi Israel di dunia Arab.
Sebuah foto menunjukkan Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miri Regev yang mengenakan busana rok tanpa jilbab berjabat tangan dengan Presiden Gulat, Judo dan Kickboxing Uni Arab Emirat Moh. Bin Tha’loob di Abu Dhabi yang mengenakan thawb (pakaian gamis Arab) dan keffiyeh atau penutup kepala berwarna serba putih.
Foto lainnya menunjukkan, Regev yang mengenakan hijab tampak diapit dua pria Arab berthawb saat mengunjungi Mesjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, sementara Menteri Komunikasi Israel Ayoub Kara berpidato di Konferensi telekomunikasi di Dubai (30/10).
Oman dan UAE tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, sehingga kehadiran Netanyahu di Oman dan lawatan sejumlah petinggi Israel ke kedua negara tersebut di tengah macetnya peoses perundingan antara Palestina dan Israel sejak 2014 menimbulkan tanda tanya besar.
Qatar pernah mengizinkan Israel membuka kantor dagang di Doha, namun menutupnya pasca serangan Israel ke Gaza pada 2009, sedangkan kantor dagang Israel di Muskat, Oman ditutup setelah gerakan intifada pada 2000.
GCC, Kekuatan Baru Negara-negara Arab
Sementara itu, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar dan UAE yang tegabung
dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC) muncul sebagai kekuatan ekonomi, sosial politik setelah Mesir, Irak dan Suriah dilanda perang dan konflik politik berkepanjangan.
Mesir yang pernah memimpin perang melawan Israel empat kali (1948, 1956 , Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kipur 1973) telah menandatangani kesepakatan damai dengan Israel di Camp David, AS pada 1978, sementara Suriah dan Irak sibuk menghadapi konflik militer dan politik di negara masing-masing.
Jordania yang dulu pernah di front terdepan negara-negara Arab melawan Israel, menarik diri setelah angkatan perangnya “babak belur” dihajar Israel pada Perang Enam Hari. Lebih dari separuh pengungsi Palestina (3 sampai 4 juta orang) berada di Jordania. Negeri ini menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1994.
Sedangkan Arab Saudi, negara yang mewakili wajah Islam dan salah satu kotanya, Mekkah sebagai kedudukan Ka’bah, kiblat umat muslim sedunia dan juga Madinnah, salah satu kota suci Islam lainnya, selama ini diam-diam juga disebut-sebut menjalin hubungan baik dengan Israel.
Saudi juga terlibat perebutan hegemomi di Timur Tengah dengan Iran yang menjadi ancaman, baik secara ideologi mau pun militer bagi Israel.
Situs berita Arab Saudi, Elaph baru-baru ini memuat wawancara Letnan Jenderal Israel Gadi Eisenkot yang menegaskan kemitraan strategis antara Arab Saudi dan negaranya.
Media besar Israel Haaretz dan The Jerussalem Post juga menurunkan berita tentang aliansi Arab Saudi-Israel, bahkan, Putera Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS) disebutkan secara diam-diam ditengarai telah melawat ke Israel September lalu.
Kedekatan Israel dengan negara-negara Arab yang dulu notabene pendukung Palestina, mungkin baik bagi perdamaian dunia, paling tidak di kawasan Timur Tengah, tetapi bisa menjadi malapetaka bagi perjuangan rakyat Palestina.
(AP/AFP/NS)





