Sakit Stroke, Ramang Ramli Bertahan Jalankan Rumah Kompos untuk Kepentingan Orang Banyak

BANYUWANGI – Terserang sakit stroke dan kondisi tubuh melemah,  aktivis lingkungan dan sosial yang bernama lengkap Ramang Ramli Rakasiwi (54), masih menjalankan  program Rumah Kompos yang dia bangun sejak 2009.

Dia bertahan menjalankan programnya  untuk mengabdikan diri untuk orang banyak.

Ramli meyakini akibat dari sampah yang sangat berbahaya pengaruhnya bagi makhluk hidup, khususnya bahan plastik. Apabila bahan tersebut hancur dan terhirup akan beracun, dan yang terbuang ke laut akan meracuni hewan laut yang mengkonsumsinya.

“Sampah memang terlihat tidak ada nilainya. Jika kita pahami dampaknya berbahaya. Namun jika kita pelajari ternyata manfaatnya juga banyak. Saya bisanya hanya ‘bermain’ dengan sampah dan pertanian, tapi saya suka,” aku Ramli.

Dalam sakitnya, dia berusaha bekerja dengan tulus, dan dia yakin manfaat akan tercipta dan uang pun didapat. “Mengolahnya, kemudian saya dapat uang. Hasil tersebut saya sumbangkan pada orang lain. Tidak apa saya sisanya saja,” jelas Ramli pada Tim dompet dhuafa.

Ia juga berpesan, “Pergilah kemanapun, sambil eksplor potensinya. Boleh tinggalkan jejak, bukan meninggalkan sampah,” pungkasnya.

Dalam menjalankan programnya, Ramli menginisiasi gerakan menanam pohon mangrove dan pengolahan sampah menjadi pupuk kompos organik.

Kemudian pupuk tersebut digunakan untuk menanam sayur organik seperti sawi, kangkung, yang apabila dijual, harganya sama dengan harga di pasar, tetapi kualitas lebih baik, karena organik.

Advertisement