Memperingati Maulid Nabi

Puncak sekatenan di Kraton Surakarta dengtan mengarak gunungan.

HARI ini 12 Rabiulawal 1440 H yang bertepatan dengan 20 Nopember 2018,   umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia memperingai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiulawal. Masyarakat Islam berbagai daerah menyambut dengan  tradisi masing-masing, sementara Kraton Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon menggelar Grebeg Mulud, yang di Yogya-Solo disebut sekatenan.

Terlepas dari pro-kontra  penyelenggaraan maulid Nabi, maulid mengandung makna kelahiran. Selain maulid ada istilah lain, Milad. Namun menurut Guntur Romli dalam website-nya, dalam penggunaan masyarakat Arab, istilah Milad sudah identik dengan Hari Kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus. Masyarakat Kristen Arab menyebut Hari Natal untuk Yesus Kristus dengan Idul Milad Al-Majid (Hari Kelahiran yang Agung).

Masyarakat muslim Arab menggunakan istilah lain untuk hari lahir Nabi Muhammad Saw, yang lahir pada hari Senin 12 Rabiulawwal dengan sebutan Maulid. Tapi baik Maulid dan Milad artinya sama, hanya penggunannya yang berbeda. Istilah Milad juga digunakan sebagai perayaan Hari Ulang Tahun di zaman modern. Orang Arab modern merayakan ulang tahunnya dengan istilah Milad, tapi tidak dengan istilah Maulid yang sudah identik dengan perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Di Kraton Surakarta dan Yogyakarta, sekatenan berlangsung selama seminggu. Di Alun-alun Lor digelar Pasar malam. Di dalam  ada banyak dijajakan jenis permainan seperti, komedi putar, odong-odong, dan masih banyak lagi. Serta banyak penjual makanan yang menjajakan kuliner-kuliner khas Solo dan Yogya. Penjual celengan dan telur asin renteng yang dicat merah jambu juga banyak bertebaran.

Puncaknya adalah Gerebeg Maulud berupa mengarak gunungan dari Kraton dibawa ke mesjid.  Gunungan tersebut dihias dengan segala macam hasil bumi terbaik dari wilayah Yogyakarta maupun Surakarta. Selesai upacara gunungan direncak (dijarah) oleh para pengunjung. Setiap orang akan bersaing sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan hasil-hasil bumi yang berada di dalam gunungan, semisal kacang panjang dan terong. Bukan hanya karena kualitas hasil buminya, namun gunungan dipercaya juga menyimpan banyak rezeki dan berkah. Sebelum diperebutkan, gunungan di doakan dulu di dalam keraton agar menjadi berkah bagi masyarakat.

Bagi masyarakat Betawi peringatan Maulud Nabi tak lepas dari makan bersama berupa nasi kebuli berlaukkan  daging sapi atau kambing. Satu nampan dimakan berempat dengan garis demarkasi jari-jari telanjang siap melibas hidangan lezat itu. Tapi sama-sama Betawi, beda wilayah sedikit pula acara intinya.

Bila Betawi Kebon Nanas dengan pembacaan kitab Syaraf al-Anam, dan doa, di Cempakaputih berupa pembacakan kitab Syaraf al-Anam dan penyemprotan minyak wangi saat narasi asyrakal (berdiri). Sedangkan  prosesi Maulid Nabi SAW wilayah Buncit, Jakarta Selatan, (termasuk Mampang, Tegal Parang, dan sekitarnya) terdiri atas dua tahap, yaitu pertama, membacakan kitab Maulid Azabi (RawiAzabi) dan kedua, penutup doa rawi.

Ternyata tradisi semacam ini terjadi pula pada peringatan maulid kelompok Islam di Srilanka. Menag Munawir Syadzali zaat menjadi diplomat di negara itu sekitar tahun 1965-1968, pernah menghadiri maulud nabi dengan hidangan makan nasi bersama-sama. Di saat makan mendadak listrik mati, mereka pun terus makan dalam gelap. Tiba-tiba ada yang teriak, “Aduh, ini tangan saya….!” Rupanya dikira paha ayam goreng, padahal jari-jemari teman makan di nampan yang sama. Untung saja belum sampai dipatahkan. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement