Reuni Dan CLBK

Reuni SMA PGRI-4 Banjarmasin pada Agustus 2018. Adakah yang CLBK? (Foto: Islustrasi)

REUNI sebetulnya sekedar pertemuan dengan teman-teman lama seperjuangan, senasib sepenanggungan. Tapi di era gombalisasi ini, reuni bisa berdampak macam-macam, apalagi jika ditunggangi politik. Reuni kalangan pelajar SMP-hingga mahasiswa memungkinkan hadirnya CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Bagaimana dengan Reuni 212 di Monas? Paling tidak ya bikin anggaran Polri lagi-lagi babak belur untuk pengamanan. Bayangkan, 20.000 personal polisi dikerahkan, apakah mereka hanya berjemur macam patung tanpa makan dan minum?

Saat aksi bela Islam 2 Desember 2016, Polri keluarkan anggaran Rp 43 miliar untuk pasukan sebanyak 27.000 personal. Sekarang ini untuk reuninya 2 Desember 2018, dengan pengerahan 20.000 polisi bisa rogoh kocek sampai Rp 30 miliar lebih. Apakah peserta reuni dan panitianya pernah membayangkan sampai ke sana-sana?

Terlepas dampak kantong dan politik dari reuni tersebut, kegiatan reuni memang terasa indah bagi para pelakunya. Ketemu teman lama sangat membahagiakan, apa lagi bila memiliki kenangan indah bersamanya. Lebih-lebih bagi pelajar SMP-mahasiswa yang di kala sekolah sudah terlibat affair dalam tata niaga asmara. Cintanya yang kandas dan tertunda, saatnya dituntaskan dan ditunaikan. Dari sinilah rumahtangga banyak yang bubar gara-gara reuni.

Maka banyak para istri dan suami melarang pasangannya menghadiri reuni. Mereka khawatir ada “setan lewat” kemudian mempertemukan dua sejoli masa lalu bergandengan dan berhubungan kembali. Enak bagi para pelakunya, tapi enek bagi pasangan yang dikhianati. Makanya paling aman adalah reuni sekolah yang khusus lelaki, atau perempuan. Kecuali mereka pengidap LGBT.

Reuni membuat kita seakan muda kembali, karena ketemu teman seusia dan seangkatan. Ada yang sudah berpisah 30-40 tahun, orangnya masih gitu-gitu saja, atau gini-gini saja. Tapi banyak juga yang penampilannya demikian tekor. Usia baru 50 tahun, tapi wajah sudah seperti 60 tahun. Kebanyakan karena tekanan hidup, sehingga rambut hitam terdesak pergi, berganti rambut putih dengan waktu relatif cepat.

Karena kondisi ekonominya sekarang, banyak orang malas menghadiri reuni. Dia merasa minder, karena status ekonomi dan sosialnya jauh dari yang lain. Teman seangkatan sudah menjadi Kepala Dinas, bahkan menteri, dia masih jadi guru SMP atau SMA. Padahal reuni takkan memamerkan kedudukan masing-masing, karena yang penting silaturahmi ketemu teman lama.

Satu hal yang harus diingat, ketika menghadiri reuni tanggalkan semua jabatan kini, seakan kembali seperti ketika masih sekolah/kuliah dulu. Jika statusnya kini masih ditenteng-tenteng dalam reuni, bisa tersinggung ketika oleh teman lamanya dipanggil langsung namanya tanpa disebut Pak atau Bu.

Pernah kejadian lucu dalam sebuah reuni koran minggu “Parikesit” di Solo, Mei 2003. Pesertanya datang dari berbagai kota. Selain dari Yogyakarta, Magelang, Semarang, Solo sendiri, Jakarta, bahkan dari London (Inggris) juga ada, karena dia penyiar di BBC. Mereka kangen-kangenan dengan gayeng.

Tiba-tiba ada salah satu peserta dari Jakarta langsung pergi tanpa pamit. Rupanya dia tersinggung. Di Jakarta jadi pejabat Inspektorat sebuah departemen, dalam reuni ini tidurnya di hotel kok dijadikan satu kamar dengan seseorang yang dulu menjadi pesuruh. Kok sampai segitunya menghargai dirinya sendiri. (Cantrik Metaram).

 

 

 

 

 

         

Advertisement