
PALING tidak PM Inggeris Theresa May dan Presiden Perancis Emmanuel Macron menanyakan pada Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) di sela-sela forum KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina, terkait kasus raibnya wartawan senior the Washington Post, Jamal Khashoggi.
Kantor PM menyebutkan, May dalam pertamuan dengan MBS meminta agar pemerintah Arab Saudi memastikan agar semua pihak yang terlibat atas hilangnya Khashoggi untuk dimintai pertanggung jawabannya.
“Arab Saudi harus berusaha agar kasus serupa tidak terjadi lagi dan memastikan agar dilakukan penyelidikan secara tuntas, kredibel dan transparan, “ demikian pernyataan yang dikeluarkan kantor PM May.
Sementara dalam pertemuan singkat dengan MBS, Presiden Perancis Emmnuel Macron menekankan pentingnya keterlibatan pakar internasional dalam penyelidikan kasus Khashoggi.
Dalam rekaman percakapan antara Macron dan MBS tampak Macron memprotes MBS dengan mengatakan: “Saya khawatir, anda tidak pernah mendengar kata saya”, menimpali ucapan MBS yang meminta agar Macron tidak usah khawatir. Rekaman tersebut beredar di medsos.
Spekulasi berkembang semakin santer bahwa Khashoggi yang bekewarganegaraan Arab Saudi dan menetap di AS karena berbeda pandangan politiknya dengan rezim di negaranya dihabisi atas perintah seseorang.
Jasad Khashoggi sampai hari ini belum ditemukan, namun dugaan kuat ia dibantai oleh belasan algojo di dalam gedung konsulat, dimutilasi dan potongang-potongan tubuhnya disiram zat kimia untuk menghilangkan jejak, kemudian sisa-sisanya dibuang di suatu tempat.
Berbagai barang bukti, seperti jam smart Apple yang dititipkan korban pada pacarya yang menunggu di luar gedung,CCTV di gedung konsulat, juga sisa-sisa larutan kimia serta DNA korban memperkuat dugaan bahwa Khashoggi memang telah dibantai dengan keji.
Sejauh ini, Saudi dilaporkan sudah memecat 18 petugas dinas intelijen yang diduga terlibat dalam pembantaian Khashoggi ia berada di konsulat Saudi di Istanbul utuk mengurus surat nikah dengan perempuan Turki bernama Hatice Chengiz.
Semula penguasa Saudi juga membantah keras kematian Khashoggi dan bersikeras bahwa korban telah meninggalkan gedung konsulat sehingga petugas konsulat tidak tahu menahu tentang keberadaan korban.
MBS selama mengikuti KTT G-20 mengadakan sejumlah pertemuan dengan sejumlah pemimpin nagara seperti Presiden Korsel Moon Jae-in dan Presiden Meksiko Enrique Penta, berbincang akrab dengan Presiden AS Donald Trump yang gigih membelanya terkait kasus Khashoggi dan saling mengadu tangan atau melakukan tos dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Presiden Trump walau dikritik rakyatnya dan dicurigai parlemen, ada “sesuatu kepentingan” bisnisnya, tetap ngotot, kemungkinan harus berhitung jika bersikap keras terhadap Saudi yang tahun ini saja mengikat kontrak transaksi pesenjataan sekitar 110 milyar dollar AS.
Dengan pemerintah RI yang dalam KTT G-20 kali ini diwakili oleh Wapres Jusuf Kalla, MBS menjanjikan komitmen negaranya untuk menpercepat investasi proyek revitalisasi kilang minyak Cilacap senilai enam milyar dolar AS atau Rp 86 triliun yang terlambat akibat sejumlah persoalan internal Indonesia seperti pembebasan lahan dan perizinan.
Hitung-hitung bisnis dengan penegakan HAM, kadang-kadang memang bertolak belakang. (AP/AFP/NS)




