Romantika Cinta di Imah Gede

Abah dan Ambu, Kasepuhan Sinar Resmi. Foto: Maifil/KBK

Menjadi pewaris pupuhan adat (pemimpin adat) di Kasepuhan Sinar Resmi tidak dapat ditolak, dengan komitmen cinta akhirnya dapat dijalankan.

Empat orang tamu, 2 laki-laki dan 2 perempuan, mampir ke Imah Gede, pagi itu.  Abah Asep Nugraha, 50 tahun, sang tuan rumah segera bangkit dari tempat duduknya di ruang tengah. Ia terus menuju ruang Pancalikan, di mana Abah Asep sehari-hari menerima warganya yang hendak meminta restu dan pertimbangan atas segala kegiatan yang hendak dilaksanakan.

Abah Asep tidak berkerja sendiri, ia dibantu 17 orang asisten.  Jika diibaratkan Abah seorang Presiden di kasepuhan, asisten yang 17 orang itu adalah para menterinya.

Imah Gede Kasepuhan Sinar Resmi
Imah Gede Kasepuhan Sinar Resmi

Abah Asep diberikan amanah Pupuhan (pemimpin) Kasepuhan Sinar Resmi sejak 02-02-2002, ketika ayah beliau, Abah Udjat tutup usia. Abah Asep Nugraha merupakan generasi kesepuluh dari 437 tahun usia kasepuhan yang dimulai pada Abad ke-16. Sebelum kasepuhan, komunitas adat ini  lebih dikenal dengan Kaolotan.

Asep Nurgraha sebagai anak satu-satunya laki-laki dari 5 bersaudara, mau tidak mau harus memegang amanah menjadi Pupuhan Kasepuhan. Aturan suksesi kepemimpinan adat  di Kasepuhan Sinar Resmi, ketika seorang Abah meninggal, maka pewarisnya adalah anak lelaki tertua.

Ketika menerima jabatan Abah, ia masih berumur 36 tahun. Usia yang masih muda. Sebelumnya ia adalah tipe lelaki yang merdeka dan suka menurutkan kata hatinya. Ia tidak selalu suka berada di dekat Abahnya, yang ketika itu menjadi Pupuhan Kasepuhan. Padahal ia adalah calon tunggal yang akan memegang gelar dan jabatan Abah, diharapkan ia harus selalu menyaksikan apa yang dilakukan abahnya sehari-hari. Agar di kemudian hari, ia bisa menjalankan tugas yang sama.

Namun Ia malah memilih tinggal jauh dari abahnya, ia sekolah keluar dan jauh dari kasepuhan. Bahkan ia merantau ke Jakarta. Ia berdomisili di Sunter, Jakarta, dan beristerikan orang betawi, Noor Hasanah, 49 tahun. Kurenah Asep Nugraha muda, sangat berbeda dengan Abah Udjat, yang ketika belia selalu berada di samping ayahnya.

Setengah jam menjelang Abah Udjat meninggal, Asep Nurgraha pun ditetapkan menjadi Abah. Ketika itu, Abah Udjat berpesan agar ia melanjutkan  kepemimpinan kasepuhan, ia pun menerimanya. Setelah diangkat menjadi Abah, selama 40 hari, ia tidak boleh meninggalkan Imah Gede. Bahkan kalau pun ia harus  keluar dari Imah Gede, ia harus diiringi pengawal (Gandek) minimal 3 orang.

Persoalan baru bagi Abah Asep, muncul. Karena ketika ia pulang ke kasepuhan dari Jakarta, ia minta izin kepada Noor isterinya di Sunter, Jakarta Utara, hanya satu hari untuk pulang pergi. Ia mengaku perasaannya tidak enak, jadi ia sangat berkeinginan untuk mengunjungi orang tuanya, Abah Udjat.

Dan benar, ketika sampai di Sinar Resmi, ia lihat Abah Udjat sudah terbaring lemah di tempat tidur. Di ruang tengah dan di halaman Imah Gede sudah banyak warga dan tamu yang berkumpul. Mereka terlihat menunggu dengan wajah serius, mereka cemas dengan apa yang akan terjadi. Akhirnya Abah Udjat dinyatakan wafat, setelah setengah jam sebelumnya sempat mewariskan amanah kasepuhan pada Abah Asep.

Ada Abah harus Ada Ambu

Ambu Ultah
Ambu Ultah

Sebagai seorang Abah, Ia harus didampingi seorang isteri yang disebut Ambu. Tugasnya tentu mengurusi seluruh urusan rumah tangga kasepuhan. Ambu adalah ibu dari seluruh ibu di kasepuhan (Patih Gowah).

Kalau Abah memikirkan bagaimana kasepuhan dijalankan, Ambu berperan mendukung Abah mengurusi urusan rumah tangga di Imah Gede dan seluruh urusan rumah tangga di seluruh kegiatan kasepuhan. Jika tamu datang ke Imah Gede, Ambu-lah yang menjamin mereka mendapat pelayanan minum dan makanan. Begitu juga setiap acara yang diadakan kasepuhan, peran Ambu sangatlah besar dalam membantu Abah.

Tapi Isteri Abah, Noor yang hendak menjadi Ambu berserta 2 anak perempuan dari hasil perkawinan mereka di tahun 1995 itu, masih tinggal di Jakarta. Abah pun mengutus perwakilannya untuk menjemputnya. Ketika itu, Noor sangat tidak siap menjadi Ambu. Ia menolak untuk ikut ke Sinar Resmi bersama utusan itu, dengan menulis surat kepada suaminya.

Dua kali Abah mengirimkan utusan kepada Noor untuk mengajaknya ke kasepuhan Sinar Resmi dan keduanya dijawab dengan penolakan. Kemudian Abah pun mengirim utusan ketiga dengan surat memelas;

“Apakah dirimu tega membiarkan aku sendiri di kampung halaman. Sementara beban jabatan ini amanah yang tidak bisa aku tolak, serta tak bisa aku jalankan sendiri tanpamu, Dek?”

Seberapapun, memelasnya surat Abah Asep, sang isteri tetap keukeuh dalam pendiriannya. Ia tetap tidak merasa mampu membawakan diri menjadi tokoh adat di Sinar Resmi.

Ia pun membalas surat itu dengan isi kepasrahan; “Jika kehadiran isteri begitu penting di dalam Kasepuhan, saya sungguh tidak sanggup menjalankannya. Demi terjaganya adat Sinar Resmi, aku ikhlas merelakanmu untuk menikah lagi dengan perempuan yang dirimu anggap mampu mendampingimu dalam mengemban amanah itu.”

Surat itu sampai ke tangan Abah Asep, dan ia membaca dengan seksama. Sementara di sisi lain, para warga sudah meminta kepastian tentang kehadiran seorang Ambu. Ketika membaca surat itu Abah seakan mendapat kesempatan untuk mencari isteri baru untuk dijadikan Ambu. Tapi, kesempatan itu tidak langsung ditelan Abah.

Ia pun kembali mengirim surat balasan. “Tolong pikirkan baik-baik, aku dan anak-anak kita, serta warga yang mengharapkan kehadiranmu di sini. Aku sungguh masih tetap dengan komitmen dengan pernikahan kita.”

Dengan surat yang terakhir, sikap keras Ambu mulai melunak. Ditambah lagi, tanpa sengaja sang anak membaca surat ayahnya dan kemudian menangis sejadi-jadinya serta menuduh sang ibu jahat dan tega membiarkan ayahnya sendiri. Noor pun akhirnya mengalah, dengan bismillah ia menyusul suaminya bersama anak-anak ke Sinar Resmi, setelah tiga bulan Abah memegang amanah kasepuhan seorang diri.

Kehadiran Noor menjadi Ambu, membuat Sinar Resmi semakin bersinar, para warga pun senang. Meskipun Ambu Noor butuh 3 tahun untuk menyesuaikan diri secara budaya dan alam di Sinar Resmi.
Selama 3 tahun itu ia mengalami biduran dan gatal-gatal, karena hijrah dari negeri bersuhu panas Jakarta, ke Sinar Resmi yang bersuhu dingin.

Namun perlahan semuanya semakin menyatu dan kini Ambu bukan hanya orang Betawi lagi tapi juga sudah menjadi ibu bagi orang Sunda di kasepuhan Sinar Resmi. Dan di sini pula Ambu dan Abah membesarkan Bianka Rachma Bella (kelahiran 1996) dan Berliana Desty (kelahiran 1999) 2 anak kandung mereka, di tambah Saragosa Gia (kelahiran 1990) dan Filka Mandalika (kelahiran 1993), 2 anak lelaki Abah dari isteri pertamanya.

Advertisement