
BELUM pupus trauma dan duka bangsa ini akibat bencana gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi atau tanah ambles yang menerjang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah 28 September lalu.
Sabtu (22/12) pukul 21.40 terjadi tsunami akibat erupsi anak gunung Krakatau yang memicu longsor di dasar laut Selat Sunda sehingga menimbulkan gelombang laut yang mengguncang Kab. Pandeglang dan Kab. Serang di Jawa Barat dan Lampung Selatan.
Sampai tulisan ini diturunkan, 222 korban (174 di Banten dan 48 Lampung Selatan) ditemukan tewas, 843 terluka dan 30 masih dinyatakan hilang kemungkinan tersapu gelombang atau tertimpa material bangunan.
Paling tidak sembilan hotel, puluhan vila dan rumah penginapan, sekitar 600 bangunan, dan 60 pusat kuliner serta 300 kapal dan perahu nelayan mengalami kerusakan akibat terjangan tsunami setinggi sampai tiga meter itu.
Selain penduduk setempat, korban di provinsi Banten juga terdiri dari wisatawan dari luar kota yang berakhir tahun dan tinggal di berbagai penginapan, bak hotel maupun vila yang banyak terdapat di kawasan wisata Carita dan Tanjung Lesung.
Paling tidak 29 karyawan atau keluarga karyawan PLN Unit Induk Transmisi Jawa Barat dari seluruhnya 260 oang yang melakukan “family gathering” di pantai Carita dinyatakan meninggal dalam musibah itu.
Grup band Seventeen yang sedang manggung dan baru menampilkan dua lagu pada malam kejadian itu, kehilangan gitarisnya, Herman Sikumbang, pemain bass Bani (Muh. Awal Purbani), manajer band Oki Wijaya serta isteri Ifan, vokalis band bernama Dylan Sahara.Informasi tentang nasib Dylan masih simpang-siur. Kabar terakhir menyebutkan ia selamat, cuma terseret oleh tsunami, terpisah dari suaminya dan berada di tempat penampungan lain.
Komedian asal Cianjur AA Jimmy yang menjadi pembawa acara dalam panggung gembira saat kejadian itu juga dinyatakan tewas, namun belum diketahui nasib isteri dan dua anaknya yang juga mendampinginya pada acara tersebut.
Vila Stefani yang berlokasi di KM 12 Pantai Carita, Kab, Pandeglang rata disapu gelombang, dan dari reruntuhan bangunan ditemukan paling tidak 24 jasad, paling banyak kemungkinan tamu-tamu yang menginap.
Begitu pula Hotel Mutiara di Pantai Carita mengalami rusak parah dan tim penyelamat masih mencari kemungkinan korban terperangkap di reruntuhan bangunan atau mobil-mobil yang terseret tsunami.
Sementara di Pantai Kunjir di Kec. Rajabasa, Lampung Selatan hampir seluruh bangunan penduduk, termasuk fasilitas umum seperti mesjid mengalami kerusakan diterjang tsunami.
Kec. Rajabasa yang terparah di Lampung Selatan selain Kec. Bakauheni dan Kec. Kalianda.
Kepala Pusdatin dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, bencana datang begitu mendadak tanpa peringatan dini karena peralatan yang ada hanya untuk mendeteksi potensi tsunami akibat gempa tektonik, bukan akibat longsoran dasar laut.
“Kita belum memiliki alat deteksi dini untuk mengamati potensi tsunami akibat longsoran dasar laut, “ katanya seraya menambahkan, tsunami menerjang bersamaan dengan gelombang pasang yang biasa terjadi di saat bulan purnama.
Sutopo mengakui, ia sempat keliru menyampaikan informasi, tidak terjadi gelombang tsunami dalam peristiwa itu.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari aktivitas di sekitar pantai, hingga lokasi dinyatakan aman, karena kemungkinan akan terjadi potensi susulan tsunami.
BMKG Keluarkan Peringatan
Kepala BMKG Dwi Korita Karnawati menyebutkan pihaknya telah menyampaikan peringatan terkait erupsi anak Krakatau dalam status Siaga sejak Jumat (21/12) kemudian juga kemungkinan gelombang pasang sampai 25 Desember nanti.
Senada dengan Sutopo, Dwi juga belum bisa memastikan, apakah erupsi anak Krakatau yang memicu tsunami akibat terjadi longsoran di dasar laut yang datang bersamaan dengan musim gelombang pasang.
Tim BMKG yang sedang melakukan uji coba instrumen di Selat Sunda, menurut Dwi, juga menyaksikan langsung adanya gelombang tinggi, hujan lebat dan angin kencang di wilayah itu sebelum musibah terjadi.
TIM SAR gabungan Basarnas, TNI dan Polri masih terus bekerja dengan fokus utama saat ini mencari korban-korban yang masih terkuraung di bawah reruntuhan bangunan atau di dalam kendaraan yang terseret tsunami.
Bencana demi bencana menyambangi negeri ini yang berada dalam cincin api (ring of fire) Pasifik yang sering mengalami gempa tektonik dan letusan gunung berapi.
Musibah tidak bisa dihindari, namun sekali lagi, mitigasi adalah satu-satunya cara untuk menekan risiko dan jumlah koban. Sudahkah dilakukan dengan benar?




