Perancis: Macron Digoyah Rompi Kuning

Puluhan Ribu pendemo berkumpul di depan gerbang kemenangan (Arc de Triompe) Paris, Sabtu (12/1)menentang kebijakan Presiden Macron. Aksi-aksi Demo yang berlangsung sejak akhir November 2018 hanya berhenti saat liburan pergantian tahun dan hingga kini terus meluas ke kota-kota lainnya.

SUDAH sembilan pekan unjukrasa kelompok “Rompi Kuning” Perancis mengguncang Paris dan sejumlah kota lainnya, menentang kebijakan ekonomi yang diberlakukan Presiden Emmanuel Macron.

Unjukrasa digelar di lokasi-lokasi yang menjadi icon Perancis di pusat kota Paris seperti di Arc de Triompe, sedangkan ratusan polisi disiagakan di kawasan elite Champs-Elysees. Unjukrasa di Paris yang digelar Sabtu (12/1) diperkirakan diikuti lebih 40.000 anggota “Rompi Kuning” sehingga pemerintah pun mengerahkan sekitar 5.000 polisi untuk mengamankannya.

Macron (39) , tokoh kubu tengah yang menang telak (63,5 persen) dalam putaran kedua pilpres Mei 2017 melawan tokoh ekstrim kanan Marine Le Pen (34,5 persen) semula digadang-gadang sebagai pembaharu negerinya.

Terpilihnya Macron juga disambut baik di kalangan Uni Eropa yang menganggapnya juga sebagai kemenangan perhimpunan negara-negara Eropa itu yang agak goyah dengan keluarnya Inggeris (Brexit).

Namun euphoria kemenangannya dalam Pilpres lalu tidak berlangsung lama, ia terus diguncang aksi unjukrasa diwarnai aksi penjarahan dan aksi vandalisme sejak kebijakan yang diberlakukannya untuk menaikkan pajak BBM November lalu.

Kenaian BBM Beratkan warga
Kenaikan harga BBM dirasakan memberatkan penduduk di pinggiran kota Paris atau di luar kota-kota besar yang sehari-harinyam enggunakan kendaraan pribadi. Mereka menilai, Macron tidak berpihak pada nasib rakyat.

Macron yang semula sesumbar tidak bakal takluk pada tekanan massa, mengurungkan kenaikan pajak BBM, memberikan bantuan senilai 10 milyar euro bagi warga berpenghasilan rendah dan menyediakan forum dialog nasional untuk merundingkan tuntutan pengunjukrasa.

Sebagian pengunjukrasa mengusung spanduk memuat tulisan: ”Bebaskan Christhoper” mengacu pada mantan petinju profesional tersebut yang ditahan karena tertangkap rekaman kamera, memukuli polisi di tengah unjukrasa.

Bahkan dalam aksi unjukrasa di kota Bourges, 250 Km arah selatan kota Paris, sebagian mereka mengusung poster memuat kalimat agar Macron mengundurkan diri. Unjukrasa juga digelar di kota-kota Bordeaux dan Toulusse.

Polisi telah menahan lebih 200 orang diduga memiliki senjata atau dicurigai berniat melakukan kejahatan di tengah unjukrasa, sementara bank- bank dan toko-toko perhiasan memasang pelindung di depan jendela kaca atau etalase untuk mengantisipasi aksi penjarahan.

Waktu akan menentukan, mampu tidaknya Macron bertahan dari tekanan massa (AP/AFP/Reuters/ns)

Advertisement