Kisah Peserta Deen Camp dari Australia Harus Adaptasi dengan Cuaca di Indonesia

BOGOR – Para peserta Deen Camp yang terdiri dari anak-anak asing campuran Indonesia-Australia mengaku menemui beberapa tantangan saat mengikuti kegiatan pembelajaran Islam dan Budaya sambil mengisi waktu liburannya di Parung, Bogor.

Salah satu kesulitan yang mereka hadapi ialah terkait adaptasi. Para peserta mengakui kalau Indonesia dan Australia memiliki suhu udara yang jauh berbeda. Bagi mereka, udara di sini sangatlah panas.

Maka tidak jarang, ketika kalian melihat mereka setelah melakukan aktivitas ibadah, seperti shalat atau mengaji, mereka langsung berlarian dan rebutan posisi yag tepat untuk menikmati hembusan Air Conditioner (AC) Masjid Al-Madinah.

“Kita sudah terbiasa dengan udara dingin di Australia. Maka ketika kita di sini, sangat terasa kepanasan. Maka biasanya setelah kegiatan, kita langsung menghampiri AC,” ucap Fasha Mustafa (10), salah satu peserta Deen Camp termuda, dikutip Fajar dari Dompet Dhuafa.

Fasha juga mengungkapkan keengganannya untuk menggunakan toilet masjid karena terlalu basah. Hal tersebut berbeda sekali dengan toilet di rumah atau di asrama camp.

Selain Fasya, Fathiya yang memiliki kulit yang sensitif juga mengharuskan dia untuk memperhatikan kulitnya setiap kali kegiatan di sini. Terutama ketika kegiatannya dilakukan di luar ruangan.

Namun terlepas dari semua kesulitan dalam beradaptasi di atas, tidak mematahkan semangat mereka untuk belajar tentang Indonesia dan juga belajar tentang agama Islam, mengingat kegiatan tersebut hanya dilaksanakan selama dua minggu saja.

“Aku ke sini untuk mengejar Islamic Studies seperti tentang Al-Qur’an, Fiqih, dan lainnya. Soalnya, tahun lalu aku sempat sibuk dengan perkuliahan, dan juga pekerjaan ketika menjadi resepsionis di klinik psikologi. Jadi di kegiatan ini, selama dua minggu aku gunakan untuk mengejar ketertinggalan ilmu-ilmu keislaman yang sempat tertunda karena kesibukan,” tutup Fathiya.

Advertisement